Rabu, 30 Desember 2020

Motivasi yang Merusak

 

“Qi!! Aku panggil-panggil tidak ada suara balasan ternyata simedi di sini kamu!” Akmal tersenyum mendapati teman yang dicarinya lagi bermain ponsel pintar di teras belakang.

“Assalamualaikum” ucap Haqi ketus.

“Eh iya lupa brooo, assalamualaikum Haqi” Akmal ikut duduk bersila di samping Haqi menatap hamparan padi.

“Wa’alaikumussalam, kenapa?” tanya Haqi tetap memainkan ponsel pintarnya.

“Gak apa-apa, serius banget situ lagi baca apa emang?” basa-basi Akmal sambil mengambil beberapa butir kacang shanghai di dalam toples.

“Cuma beranda Facebook dari pada nglamun” jawab Haqi santai sambil meletakkan ponsel di sampingnya. “Emang wajah gue terlihat lagi serius?” Haqi mengambil kacang shanghai lalu menatap Akmal.

Satu butir shanghai masuk ke mulut Akmal. “Sudah dari sananya kali Qi”.

“Sebenarnya beranda Facebook yang gue baca barusan gak ada yang menarik, hanya status bocah alay yang lagi galau dan pamer hal yang sepele. Namun karena aku membacanya sambil memikirkan hal lain, jadilah aku seperti membaca informasi penting” jelas Haqi.

Akmal mengangguk sambil mengunyah camilannya.

“Status Facebook seseorang yang hanya berisi keluh kesah namun ngena banget pada ranah pendidikan, menurut gue” Haqi diam sebentar. “Apa sih sulitnya memberikan nilai A pada anak, bukankah anak yang mendapat nilai bagus tambah semangat belajarnya? Kurang lebih begitu statusnya” lanjut Haqi.

“Terus, kamu komentari gimana?”

“Males banget komentari begituan, membacanya saja membuat gue galau apalagi harus debat dengan penulisnya”.

Akmal tertawa.

“Status tersebut berhasil membuatku dilema, Mal. Benar yang dikatakan penulis tersebut, bahwasanya nilai bagus dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar. Menurut teori yang pernah kita pelajari ini termasuk motivasi ekstrinsik atau motivasi yang berada di luar diri kita. Seseorang juga membutuhkan motivasi jenis ini untuk meningkatkan kualitas dirinya. Namun, untuk kasus yang tadi? Bagaimana?”

“Dari tulisan tersebut, saya menyimpulkan bahwa anak atau saudara penulis itu pasti sering mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, dan menulis status itu adalah bentuk protesnya. Pertanyaannya, apakah nilai yang diperoleh itu memang mencerminkan kemampuan anak itu atau memang gurunya yang pelit nilai? Tapi saya lebih condong ke yang pertama” Akmal mengambil beberapa butir shanghai lagi.

Haqi mengangguk.

“Kalau seperti itu, saya setuju dengan pendapatmu yang mengatakan kalau status itu memberikan efek samping pada pendidikan”.

“Lo pikir obat kimia?” sergah Haqi.

Akmal tidak menanggapi gurauan Haqi. “Jika sampai pendapat itu direalisasikan di lapangan atau katakanlah pendidik memberikan nilai yang baik dengan tujuan memotivasi peserta didiknya, maka ijinkan saya menyebut itu dengan istilah motivasi yang merusak. Kenapa merusak? Karena dengan mendapat nilai yang bagus, meski anak akan lebih semangat belajar, namun saya yakin mereka pasti merasa senang dan benar di dalam kesalahan mereka. Kesalahan yang dibenarkan tersebut akan membuat si anak tidak akan mencari hal yang benar. Bagaimana mereka mau mencari kebenaran jika ada yang menilai baik kesalahan mereka?”.

Haqi mengangguk tanda setuju. “Dan pastinya anak-anak akan merasa puas dengan nilai fatamorgana itu”.

“Betul” jawab Akmal sambil membentuk tanda pistol di jarinya.

Like Me :)

Motivasi yang Merusak

 

“Qi!! Aku panggil-panggil tidak ada suara balasan ternyata simedi di sini kamu!” Akmal tersenyum mendapati teman yang dicarinya lagi bermain ponsel pintar di teras belakang.

“Assalamualaikum” ucap Haqi ketus.

“Eh iya lupa brooo, assalamualaikum Haqi” Akmal ikut duduk bersila di samping Haqi menatap hamparan padi.

“Wa’alaikumussalam, kenapa?” tanya Haqi tetap memainkan ponsel pintarnya.

“Gak apa-apa, serius banget situ lagi baca apa emang?” basa-basi Akmal sambil mengambil beberapa butir kacang shanghai di dalam toples.

“Cuma beranda Facebook dari pada nglamun” jawab Haqi santai sambil meletakkan ponsel di sampingnya. “Emang wajah gue terlihat lagi serius?” Haqi mengambil kacang shanghai lalu menatap Akmal.

Satu butir shanghai masuk ke mulut Akmal. “Sudah dari sananya kali Qi”.

“Sebenarnya beranda Facebook yang gue baca barusan gak ada yang menarik, hanya status bocah alay yang lagi galau dan pamer hal yang sepele. Namun karena aku membacanya sambil memikirkan hal lain, jadilah aku seperti membaca informasi penting” jelas Haqi.

Akmal mengangguk sambil mengunyah camilannya.

“Status Facebook seseorang yang hanya berisi keluh kesah namun ngena banget pada ranah pendidikan, menurut gue” Haqi diam sebentar. “Apa sih sulitnya memberikan nilai A pada anak, bukankah anak yang mendapat nilai bagus tambah semangat belajarnya? Kurang lebih begitu statusnya” lanjut Haqi.

“Terus, kamu komentari gimana?”

“Males banget komentari begituan, membacanya saja membuat gue galau apalagi harus debat dengan penulisnya”.

Akmal tertawa.

“Status tersebut berhasil membuatku dilema, Mal. Benar yang dikatakan penulis tersebut, bahwasanya nilai bagus dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar. Menurut teori yang pernah kita pelajari ini termasuk motivasi ekstrinsik atau motivasi yang berada di luar diri kita. Seseorang juga membutuhkan motivasi jenis ini untuk meningkatkan kualitas dirinya. Namun, untuk kasus yang tadi? Bagaimana?”

“Dari tulisan tersebut, saya menyimpulkan bahwa anak atau saudara penulis itu pasti sering mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, dan menulis status itu adalah bentuk protesnya. Pertanyaannya, apakah nilai yang diperoleh itu memang mencerminkan kemampuan anak itu atau memang gurunya yang pelit nilai? Tapi saya lebih condong ke yang pertama” Akmal mengambil beberapa butir shanghai lagi.

Haqi mengangguk.

“Kalau seperti itu, saya setuju dengan pendapatmu yang mengatakan kalau status itu memberikan efek samping pada pendidikan”.

“Lo pikir obat kimia?” sergah Haqi.

Akmal tidak menanggapi gurauan Haqi. “Jika sampai pendapat itu direalisasikan di lapangan atau katakanlah pendidik memberikan nilai yang baik dengan tujuan memotivasi peserta didiknya, maka ijinkan saya menyebut itu dengan istilah motivasi yang merusak. Kenapa merusak? Karena dengan mendapat nilai yang bagus, meski anak akan lebih semangat belajar, namun saya yakin mereka pasti merasa senang dan benar di dalam kesalahan mereka. Kesalahan yang dibenarkan tersebut akan membuat si anak tidak akan mencari hal yang benar. Bagaimana mereka mau mencari kebenaran jika ada yang menilai baik kesalahan mereka?”.

Haqi mengangguk tanda setuju. “Dan pastinya anak-anak akan merasa puas dengan nilai fatamorgana itu”.

“Betul” jawab Akmal sambil membentuk tanda pistol di jarinya.

Blog Design by W-Blog