Kamis, 13 Februari 2014

Sumber Belajar



A.     Pengertian Sumber Belajar
Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.[1]
Dapat juga diartikan segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Optimalisasi hasil belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar (output) namun juga dilihat dari proses berupa interaksi siswa dengan berbagai macam sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk belajar dan mempercepat pemahaman dan penguasaan dibidang ilmu yang dipelajarinya.[2]
Adapun para ahli telah mengemukakan pendapat tentang pengertian sumber belajar sebagai berikut:[3]
  1. Menurut Yusufhadi Miarso adalah segala sesuatu yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan, baik secara tersendiri maupun terkombinasikan yang dapat memungkinkan terjadinya belajar.
  2. Edgar Dale mengemukakan sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang.
  3. Menurut Rohani sumber belajar (learning resources) adalah   segala
    macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan yang
    memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar.
  4. Association Educational Communication and Technology (AECT), yang menyatakan bahwa sumber belajar   adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunkan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru.[4]
Dengan demikian, sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi yang dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.[5]
            Dari pengertian tersebut, sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut:[6]
a.       Tempat atau lingkungan alam sekitar, yaitu di mana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku, maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan dan sebagainya.
b.      Benda, yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya.
c.       Orang, yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana peserta didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya guru, ahli geologi, polisi, dan ahli-ahli lainnya.
d.      Buku, yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, fiksi, dan lain sebagainya.
e.       Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang mana guru dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.

Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Jika tidak maka tempat atau lingkungan sekitar (benda, orang, atau buku) hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yang tidak berarti apa-apa.[7]

B.     Macam-Macam Sumber Belajar
1.      Menurut Sifat Dasarnya:
a.       Manusia (Human)
Manusia sebagai sumber belajar dibedakan menjadi: yang secara khusus dipersiapkan menjadi sumber belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yaitu para guru atau guru bantu dan ada juga mereka yang tidak dipersiapkan menjadi sumber belajar tapi dapat diberdayakan seperti ahli bank, pengusaha, artis, ulama' para pekerja dan sebagainya.

b.      Non Manusia (Non-Human)
Yang termasuk sumber belajar non manusia yaitu pesan, teknik, lingkungan, benda-benda material, ruang dan tempat, alat dan perabot, serta kegiatan.

2.      Menurut Segi Pengembangannya
a.       Direncanakan
Adalah sumber belajar yang dirancang khusus untuk mencapai tujuan pengajaran contoh: peta, globe, peta timbul dan sebagainya.



b.      Tidak direncanakan
Adalah sumber belajar yang tidak dirancang secara khusus untuk mencapai tujuan pengajaran dan telah tersedia didalam maupun diluar lingkungan sekolah seperti: museum, masjid, pasar, taman,dan lain-lain.

3.      Berdasarkan Pendekatan Teknologi Instruksional
a.       Pesan
Adalah informasi/ ajaran yang disampaikan oleh komponen sumber belajar lainnya, meliputi: ide-ide, fakta dan lain-lain.
b.      Orang
Adalah yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah dan penyaji pesan. Contoh: guru, dosen, tutor, siswa dan lain-lain
c.       Bahan
Adalah perangkat lunak yang dapat dijadikan penyampai pesan yang dapat disajikan kepada siswa melalui penggunaan alat ataupun oleh diri sendiri, contoh: film stripe, radio cassette, buku, dan lain-lain
d.      Alat
Adalah perangkat keras yang dipergunakan untuk menyampaikan yang tersimpan didalam bahan. Contoh: OHP, pesawat radio, pesawat televise, LCD, dan lain-lain.
e.       Teknik
Adalah prosedur atau panduan serta acuan yang dipersiapkan untuk penggunaan bahan, peralatan, orang serta lingkungan untuk penyampaian pesan. Contoh: cara belajar siswa aktif, keterampilan proses, dan lain-lain.
f.        Lingkungan
Adalah segala sesuatu yang berada disekitar siswa atau sekolah baik yang berbentuk fisik maupun non fisik. Contoh: gedung sekolah perpustakaan, penerangan, suasana belajar, dan lain-lain.[8]

Media pembelajaran merupakan komponen intruksional yang melliputi pesan, orang, dan peralatan. Menurut syaifulbahri djamarah dan aswan zain,media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau informasi pesan. Media yang digunakan dalam pembelajaran beraneka ragam. Seseorang guru harus dapat memilih salah satu media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan atau pemilihan media harus disesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.[9]

Menurut (Djamarah, 2002:140) menggolongkan media pembelajaran menjadi tiga yaitu:
  1. Media auditif yaitu media yang mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio,  kaset rekorder.
  2. Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan karena hanya menampilkan gambar diam seperti film bingkai, foto, gambar, atau lukisan.
  3. Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik.[10]

Selanjutnya (Sadiman, 2008:28) membagi media pembelajaran menjadi 3 golongan kelompok besar :
  1. Media Grafis termasuk media visual seperti gambar/foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik, kartun, poster, peta, dan globe.
  2.  Media Audio berkaitan dengan indera pendengaran. Seperti radio, alat perekam piata magnetik, piringan laboratorium bahasa.
  3. Media Proyeksi Diam seperti film bingkai (slide), film rangkai (film strip), media transparan, film, televisi,  video.[11]

Berdasarkankan pendapat di atas, maka media pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:


  1. Media Audio
Media Audio adalah media yang isi pesannya hanya diterima melalui indera pendengaran. Dilihat dari sifat pesan yang diterima, media audio dapat menyampaikan pesan verbal (bahasa lisan atau kata-kata) maupun non verbal (bunyi-bunyian dan vokalisasi).

2.      Media Visual
Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual menampilan materialnya dengan menggunakan alat proyeksi atau proyektor, karena melalui media ini perangkat lunak (soft ware) yang melengkapi alat proyeksi ini akan dihasilkan suatu bias cahaya atau gambar yang sesuai dengan materi yang diinginkan.

3.      Media Audio-Visual
Media audio-visual disebaut juga sebagai media video. Video merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam media video terdapat dua unsur yang saling bersatu yaitu audio dan visual. Adanya unsur audio memungkinkan siswa untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui pendengaran, sedangkan unsur visual memungkinkan penciptakan pesan belajar melalui bentuk visualisasi.[12]

C.     Manfaatan Sumber Belajar
Menurut Rohani dalam kutipan Wina Sanjaya, manfaat sumber belajar antara lain meliputi:[13]
1.    Memberikan pengalaman belajar secara langsung dan konkret kepada peserta didik.
2.    Dapat menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan, dikunjungi atau dilihat secara langsung dan konkret.
3.    Dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada di dalam kelas.
4.    Dapat memberi informasi yang akurat dan terbaru.
5.    Dapat membantu memecahkan masalah pendidikan (instruksional) baik dalam lingkup mikro maupun makro.
6.    Dapat memberi informasi yang positif, apabila diatur dan direncanakan pemanfaatannya secara tepat.
7.    Dapat merangsang untuk berpikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.

D. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah
Definisi pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah suatu lingkungan belajar di mana masalah mengendalikan proses belajar mengajar. Hal ini berarti sebelum pelajar belajar, mereka diberikan umpan berupa masalah. Masalah diajukan agar pelajar mengetahui bahawa mereka harus mempelajari beberapa pengetahuan baru sebelum mereka memecahkan masalah tersebut.[14]
Adapun definisi pendekatan pembelajaran berbasis masalah menurut para ahli yaitu:[15]
1.      Menurut Suyatno, pendekatan pembelajaran berbasis masalah adalah  proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran dimulai berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) untuk membentuk pengetahuan dan pengalaman baru.
2.      Menurut Nurhadi, pendekatan pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Dalam hal ini pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah.
3.      Menurut Arends, pendekatan pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan  pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
Dari pendapat-pendapat para ahli diambil kesimpulan pendekatan pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik tolak pembelajaran. Masalah-masalah yang dapat dijadikan sebagai sarana belajar adalah masalah yang memenuhi konteks dunia nyata, yang akrab dengan kehidupan sehari-hari para siswa. Melalui masalah-masalah kontekstual ini para siswa menemukan kembali pengetahuan konsep-konsep dan ide-ide yang esensial dari materi pelajaran dan membangunnya ke dalam stuktur kognitif.

Ada lima bentuk pendekatan pembelajaran berbasis masalah, yakni:[16]
1.    Permasalahan sebagai pemandu: Masalah menjadi acuan konkrit yang harus menjadi perhatian pemelajar. Bacaan diberikan sejalan dengan masalah. Masalah menjadi kerangka berpikir pemelajar dalam mengerjakan tugas.
2.    Permasalahan sebagai kesatuan & alat evaluasi: Masalah disajikan setelah tugas2 & penjelasan diberikan. Tujuannya memberikan kesempatan bagi pemelajar untuk menerpakan pengetahuannya untuk memecahkan masalah.
3.    Permasalahan sebagai contoh: Masalah dijadikan contoh & bagian dari bahan belajar. Masalah digunakan untuk menggambarkan teori, konsep atau prinsip & dibahas antara pemelajar & guru.
4.    Permasalahan sebagai fasilitasi proses belajar: Masalah dijadikan alat untuk melatih pelajar bernalar & berpikir kritis.
5.    Permasalahan sebagai stimulus belajar: Masalah merangsang pemelajar untuk mengembangkan ketrampilan mengumpulkan & menganalisis data yang berkaitan dengan masalah dan ketrampilan metakognitif.
Karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:[17]
a.    Permasalahan menjadi strating point dalam belajar.
b.    Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur.
c.    Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective).
d.    Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar.
e.    Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama.
f.      Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam.
g.    Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif.
h.    Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan.
i.      Pembelajaran berbasis masalah melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.

Dari karakteristik tersebut, maka terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pendekatan pembelajaran berbasis masalah.
Adapun kelebihan pendekatan pembelajaran berbasis masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut:[18]
1.      Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif dan mandiri.
2.      Meningkatkan motivasi dan kemampuan memecahkan masalah.
3.      Membantu siswa belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi baru.
4.      Dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah akan terjadi pembelajaran bermakna.
5.      Dalam situasi pendekatan pembelajaran berbasis masalah siswa mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.
6.      Pendekatan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa/mahasiswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Sedangkan kekurangan pendekatan pembelajaran berbasis masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut:[19]
1.      Kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini.
2.      Kurangnya waktu pembelajaran.
3.      Siswa tidak dapat benar-benar tahu apa yang mungkin penting bagi mereka untuk belajar.
4.      Seorang guru sulit menjadi fasilitator yang baik.



[1] http://nurul-pai.blogspot.com/2013/01/sumber-belajar.html diakses pada Jumat, 27 September 2013 pukul 20.57
[2] http://agus-sadikin.blogspot.com/2012/12/pengertian-sumber-belajar.html diakses pada Jumat, 27 September 2013 pukul 21.00
[3] http://nurul-pai.blogspot.com/2013/01/sumber-belajar.html diakses pada Jumat, September 2013 pukul 21.10
[4] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006, hal 170.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Ibid, hal 171.
[9]Arief Sadiman, Media Pendidikan, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2007, 208.
[11] Ibid
[12] Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, PT RINEKA CIPTA, 2010, 124.
[13] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2009, hal. 203.
[17] http://3e-kelompok2.blogspot.com/ diakses pada Selasa, 8 Oktober 2013 pukul 21.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Me :)

Sumber Belajar



A.     Pengertian Sumber Belajar
Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.[1]
Dapat juga diartikan segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. Optimalisasi hasil belajar ini dapat dilihat tidak hanya dari hasil belajar (output) namun juga dilihat dari proses berupa interaksi siswa dengan berbagai macam sumber belajar yang dapat merangsang siswa untuk belajar dan mempercepat pemahaman dan penguasaan dibidang ilmu yang dipelajarinya.[2]
Adapun para ahli telah mengemukakan pendapat tentang pengertian sumber belajar sebagai berikut:[3]
  1. Menurut Yusufhadi Miarso adalah segala sesuatu yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan, baik secara tersendiri maupun terkombinasikan yang dapat memungkinkan terjadinya belajar.
  2. Edgar Dale mengemukakan sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang.
  3. Menurut Rohani sumber belajar (learning resources) adalah   segala
    macam sumber yang ada di luar diri seseorang (peserta didik) dan yang
    memungkinkan (memudahkan) terjadinya proses belajar.
  4. Association Educational Communication and Technology (AECT), yang menyatakan bahwa sumber belajar   adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunkan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.
Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai bentuk media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi dari berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru.[4]
Dengan demikian, sumber belajar juga diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi yang dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku.[5]
            Dari pengertian tersebut, sumber belajar dapat dikategorikan sebagai berikut:[6]
a.       Tempat atau lingkungan alam sekitar, yaitu di mana saja seseorang dapat melakukan belajar atau proses perubahan tingkah laku, maka tempat itu dapat dikategorikan sebagai tempat belajar yang berarti sumber belajar, misalnya perpustakaan, pasar, museum, sungai, gunung, tempat pembuangan sampah, kolam ikan dan sebagainya.
b.      Benda, yaitu segala benda yang memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik, maka benda itu dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya situs, candi, benda peninggalan lainnya.
c.       Orang, yaitu siapa saja yang memiliki keahlian tertentu di mana peserta didik dapat belajar sesuatu, maka yang bersangkutan dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya guru, ahli geologi, polisi, dan ahli-ahli lainnya.
d.      Buku, yaitu segala macam buku yang dapat dibaca secara mandiri oleh peserta didik dapat dikategorikan sebagai sumber belajar. Misalnya buku pelajaran, buku teks, kamus, ensiklopedi, fiksi, dan lain sebagainya.
e.       Peristiwa dan fakta yang sedang terjadi, misalnya peristiwa kerusuhan, peristiwa bencana, dan peristiwa lainnya yang mana guru dapat menjadikan peristiwa atau fakta sebagai sumber belajar.

Sumber belajar akan menjadi bermakna bagi peserta didik maupun guru apabila sumber belajar diorganisir melalui satu rancangan yang memungkinkan seseorang dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar. Jika tidak maka tempat atau lingkungan sekitar (benda, orang, atau buku) hanya sekedar tempat, benda, orang atau buku yang tidak berarti apa-apa.[7]

B.     Macam-Macam Sumber Belajar
1.      Menurut Sifat Dasarnya:
a.       Manusia (Human)
Manusia sebagai sumber belajar dibedakan menjadi: yang secara khusus dipersiapkan menjadi sumber belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan yaitu para guru atau guru bantu dan ada juga mereka yang tidak dipersiapkan menjadi sumber belajar tapi dapat diberdayakan seperti ahli bank, pengusaha, artis, ulama' para pekerja dan sebagainya.

b.      Non Manusia (Non-Human)
Yang termasuk sumber belajar non manusia yaitu pesan, teknik, lingkungan, benda-benda material, ruang dan tempat, alat dan perabot, serta kegiatan.

2.      Menurut Segi Pengembangannya
a.       Direncanakan
Adalah sumber belajar yang dirancang khusus untuk mencapai tujuan pengajaran contoh: peta, globe, peta timbul dan sebagainya.



b.      Tidak direncanakan
Adalah sumber belajar yang tidak dirancang secara khusus untuk mencapai tujuan pengajaran dan telah tersedia didalam maupun diluar lingkungan sekolah seperti: museum, masjid, pasar, taman,dan lain-lain.

3.      Berdasarkan Pendekatan Teknologi Instruksional
a.       Pesan
Adalah informasi/ ajaran yang disampaikan oleh komponen sumber belajar lainnya, meliputi: ide-ide, fakta dan lain-lain.
b.      Orang
Adalah yang bertindak sebagai penyimpan, pengolah dan penyaji pesan. Contoh: guru, dosen, tutor, siswa dan lain-lain
c.       Bahan
Adalah perangkat lunak yang dapat dijadikan penyampai pesan yang dapat disajikan kepada siswa melalui penggunaan alat ataupun oleh diri sendiri, contoh: film stripe, radio cassette, buku, dan lain-lain
d.      Alat
Adalah perangkat keras yang dipergunakan untuk menyampaikan yang tersimpan didalam bahan. Contoh: OHP, pesawat radio, pesawat televise, LCD, dan lain-lain.
e.       Teknik
Adalah prosedur atau panduan serta acuan yang dipersiapkan untuk penggunaan bahan, peralatan, orang serta lingkungan untuk penyampaian pesan. Contoh: cara belajar siswa aktif, keterampilan proses, dan lain-lain.
f.        Lingkungan
Adalah segala sesuatu yang berada disekitar siswa atau sekolah baik yang berbentuk fisik maupun non fisik. Contoh: gedung sekolah perpustakaan, penerangan, suasana belajar, dan lain-lain.[8]

Media pembelajaran merupakan komponen intruksional yang melliputi pesan, orang, dan peralatan. Menurut syaifulbahri djamarah dan aswan zain,media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau informasi pesan. Media yang digunakan dalam pembelajaran beraneka ragam. Seseorang guru harus dapat memilih salah satu media pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan atau pemilihan media harus disesuaikan dengan materi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.[9]

Menurut (Djamarah, 2002:140) menggolongkan media pembelajaran menjadi tiga yaitu:
  1. Media auditif yaitu media yang mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio,  kaset rekorder.
  2. Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan karena hanya menampilkan gambar diam seperti film bingkai, foto, gambar, atau lukisan.
  3. Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik.[10]

Selanjutnya (Sadiman, 2008:28) membagi media pembelajaran menjadi 3 golongan kelompok besar :
  1. Media Grafis termasuk media visual seperti gambar/foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik, kartun, poster, peta, dan globe.
  2.  Media Audio berkaitan dengan indera pendengaran. Seperti radio, alat perekam piata magnetik, piringan laboratorium bahasa.
  3. Media Proyeksi Diam seperti film bingkai (slide), film rangkai (film strip), media transparan, film, televisi,  video.[11]

Berdasarkankan pendapat di atas, maka media pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:


  1. Media Audio
Media Audio adalah media yang isi pesannya hanya diterima melalui indera pendengaran. Dilihat dari sifat pesan yang diterima, media audio dapat menyampaikan pesan verbal (bahasa lisan atau kata-kata) maupun non verbal (bunyi-bunyian dan vokalisasi).

2.      Media Visual
Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual menampilan materialnya dengan menggunakan alat proyeksi atau proyektor, karena melalui media ini perangkat lunak (soft ware) yang melengkapi alat proyeksi ini akan dihasilkan suatu bias cahaya atau gambar yang sesuai dengan materi yang diinginkan.

3.      Media Audio-Visual
Media audio-visual disebaut juga sebagai media video. Video merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam media video terdapat dua unsur yang saling bersatu yaitu audio dan visual. Adanya unsur audio memungkinkan siswa untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui pendengaran, sedangkan unsur visual memungkinkan penciptakan pesan belajar melalui bentuk visualisasi.[12]

C.     Manfaatan Sumber Belajar
Menurut Rohani dalam kutipan Wina Sanjaya, manfaat sumber belajar antara lain meliputi:[13]
1.    Memberikan pengalaman belajar secara langsung dan konkret kepada peserta didik.
2.    Dapat menyajikan sesuatu yang tidak mungkin diadakan, dikunjungi atau dilihat secara langsung dan konkret.
3.    Dapat menambah dan memperluas cakrawala sajian yang ada di dalam kelas.
4.    Dapat memberi informasi yang akurat dan terbaru.
5.    Dapat membantu memecahkan masalah pendidikan (instruksional) baik dalam lingkup mikro maupun makro.
6.    Dapat memberi informasi yang positif, apabila diatur dan direncanakan pemanfaatannya secara tepat.
7.    Dapat merangsang untuk berpikir, bersikap dan berkembang lebih lanjut.

D. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah
Definisi pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah suatu lingkungan belajar di mana masalah mengendalikan proses belajar mengajar. Hal ini berarti sebelum pelajar belajar, mereka diberikan umpan berupa masalah. Masalah diajukan agar pelajar mengetahui bahawa mereka harus mempelajari beberapa pengetahuan baru sebelum mereka memecahkan masalah tersebut.[14]
Adapun definisi pendekatan pembelajaran berbasis masalah menurut para ahli yaitu:[15]
1.      Menurut Suyatno, pendekatan pembelajaran berbasis masalah adalah  proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran dimulai berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata siswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman telah mereka miliki sebelumnya (prior knowledge) untuk membentuk pengetahuan dan pengalaman baru.
2.      Menurut Nurhadi, pendekatan pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Dalam hal ini pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah.
3.      Menurut Arends, pendekatan pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan  pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri.
Dari pendapat-pendapat para ahli diambil kesimpulan pendekatan pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai titik tolak pembelajaran. Masalah-masalah yang dapat dijadikan sebagai sarana belajar adalah masalah yang memenuhi konteks dunia nyata, yang akrab dengan kehidupan sehari-hari para siswa. Melalui masalah-masalah kontekstual ini para siswa menemukan kembali pengetahuan konsep-konsep dan ide-ide yang esensial dari materi pelajaran dan membangunnya ke dalam stuktur kognitif.

Ada lima bentuk pendekatan pembelajaran berbasis masalah, yakni:[16]
1.    Permasalahan sebagai pemandu: Masalah menjadi acuan konkrit yang harus menjadi perhatian pemelajar. Bacaan diberikan sejalan dengan masalah. Masalah menjadi kerangka berpikir pemelajar dalam mengerjakan tugas.
2.    Permasalahan sebagai kesatuan & alat evaluasi: Masalah disajikan setelah tugas2 & penjelasan diberikan. Tujuannya memberikan kesempatan bagi pemelajar untuk menerpakan pengetahuannya untuk memecahkan masalah.
3.    Permasalahan sebagai contoh: Masalah dijadikan contoh & bagian dari bahan belajar. Masalah digunakan untuk menggambarkan teori, konsep atau prinsip & dibahas antara pemelajar & guru.
4.    Permasalahan sebagai fasilitasi proses belajar: Masalah dijadikan alat untuk melatih pelajar bernalar & berpikir kritis.
5.    Permasalahan sebagai stimulus belajar: Masalah merangsang pemelajar untuk mengembangkan ketrampilan mengumpulkan & menganalisis data yang berkaitan dengan masalah dan ketrampilan metakognitif.
Karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:[17]
a.    Permasalahan menjadi strating point dalam belajar.
b.    Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata yang tidak terstruktur.
c.    Permasalahan membutuhkan perspektif ganda (multiple perspective).
d.    Permasalahan, menantang pengetahuan yang dimiliki oleh siswa, sikap, dan kompetensi yang kemudian membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar dan bidang baru dalam belajar.
e.    Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama.
f.      Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam.
g.    Belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif.
h.    Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan.
i.      Pembelajaran berbasis masalah melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.

Dari karakteristik tersebut, maka terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pendekatan pembelajaran berbasis masalah.
Adapun kelebihan pendekatan pembelajaran berbasis masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut:[18]
1.      Mengembangkan pemikiran kritis dan keterampilan kreatif dan mandiri.
2.      Meningkatkan motivasi dan kemampuan memecahkan masalah.
3.      Membantu siswa belajar untuk mentransfer pengetahuan dengan situasi baru.
4.      Dengan pendekatan pembelajaran berbasis masalah akan terjadi pembelajaran bermakna.
5.      Dalam situasi pendekatan pembelajaran berbasis masalah siswa mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.
6.      Pendekatan pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif siswa/mahasiswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Sedangkan kekurangan pendekatan pembelajaran berbasis masalah dalam pemanfaatannya adalah sebagai berikut:[19]
1.      Kurang terbiasanya peserta didik dan pengajar dengan metode ini.
2.      Kurangnya waktu pembelajaran.
3.      Siswa tidak dapat benar-benar tahu apa yang mungkin penting bagi mereka untuk belajar.
4.      Seorang guru sulit menjadi fasilitator yang baik.



[1] http://nurul-pai.blogspot.com/2013/01/sumber-belajar.html diakses pada Jumat, 27 September 2013 pukul 20.57
[2] http://agus-sadikin.blogspot.com/2012/12/pengertian-sumber-belajar.html diakses pada Jumat, 27 September 2013 pukul 21.00
[3] http://nurul-pai.blogspot.com/2013/01/sumber-belajar.html diakses pada Jumat, September 2013 pukul 21.10
[4] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006, hal 170.
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Ibid, hal 171.
[9]Arief Sadiman, Media Pendidikan, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2007, 208.
[11] Ibid
[12] Syaiful Bahri, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, PT RINEKA CIPTA, 2010, 124.
[13] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2009, hal. 203.
[17] http://3e-kelompok2.blogspot.com/ diakses pada Selasa, 8 Oktober 2013 pukul 21.00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Design by W-Blog