Kamis, 23 Juni 2016

Review Novel "RINDU" Tere Liye




RINDU Tere Liye

Judul : Rindu
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan IV, November 2014
“Bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”.

Rindu, sebuah novel best seller karangan Tere Liye yang menceritakan perjalanan panjang kerinduan. Seperti novel yang lainnya, novel ini juga terdapat pelajaran yang sungguh berharga. Dengan bersetting zaman penjajahan, Tere Liye menceritakan perjalanan haji orang-orang Indonesia menggunakan kapal uap yang tidak secepat dan semudah sekarang saat merdeka dan didukung canggihnya alat transportasi. Bukan hanya tentang permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh kapal uap yang akan kita temukan di sini, tapi kita juga akan menemukan banyak pelajaran tentang hidup lewat tokoh-tokoh di dalamnya.


Perjalanan haji memanglah perjalanan yang panjang, tidak hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin seorang hamba yang rindu untuk bersimpuh kepada Tuhan di tempat yang sangat mulia. Kapal Blitar Holland adalah salah satu kapal yang berjasa membawa penumpang pada masa itu untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima. Tidak hanya dari satu pulau penumpangnya, melainkan dari seluruh pulau di Indonesia, beberapa orang dengan latar belakang dan sifat berbeda bertemu di sini.

Lima orang dengan kisah yang berbeda menciptakan lima pertanyaan untuk dijawab. Kisah-kisah tersebut menggambarkan masalah-masalah yang sering dihadapi oleh manusia dalam hidup. Tentang masa lalu yang memilukan, tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi, tentang kehilangan kekasih hati, tentang cinta sejati, dan tentang kemunafikan. Jawaban atas kisah-kisah berikut pertanyaan-pertanyaannya tersebut merupakan renungan sekaligus solusi bagaimana seharusnya menghadapi permasalahan tersebut.

Pertama, kisah tentang Bonda Upe. Penumpang Blitar Holland terdiri dari anak-anak dan orang dewasa. Pembelajaran membaca Al-Quran sangatlah penting bagi anak, karena itu Gurutta (orang alim yang paham agama dan orang yang paling dihormati) memberi amanah kepadanya untuk mengajar anak-anak mengaji. Namun, suatu saat dirinya bergejolak. Dia merasa tidak pantas dijadikan guru mengaji anak-anak, hingga dia memilih untuk berdiam diri di kabinnya, tidak makan di kantin kapal, tidak sholat di masjid, bahkan libur mengajar anak-anak mengaji. Sikapnya yang demikian membuat orang-orang dan anak didiknya terutama Anna dan Elsa (anak Andipati) penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada guru ngajinya. Karena setiap kedua anak itu beserta Gurutta ingin bertemu, Bonda Upe selalu menolak untuk menemuinya.

Pada suatu saat, ketika Bonda Upe dan suaminya menemukan waktu yang paa, mereka pun bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Gurutta. Mereka yakin Gurutta lah orang yang tepat untuk memnyelesaikan masalahnya. Hingga terjawablah pertanyaan Gurutta tentang Bonda Upe yang terus menyendiri di kamar. Masalahnya tidak lain adalah masa lalu yang memilukan. Bonda Upe, guru mengaji anak-anak berkulit putih dan cantik bermata sipit (keturunan Cina) yang selalu dipandang kagum oleh Anna, dulunya adalah seorang pelacur, tepatnya terpaksa menjadi pelacur. Inilah yang membuat dirinya minder.

Dirinya takut kalau masa lalunya terbongkar sehingga orang-orang di kapal bakal mengerti kalau guru mengaji anak-anaknya adalah mantan pelacur. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana diejek dan dicaci oleh orang-orang. Bahkan dia juga takut kalau anak didiknya mengetahui bahwa orang yang mengajari mengaji mereka ternyata orang yang bejat. Biarpun dia sudah sebenar-benarnya taubat, namun perasaan takut ini selalu menghinggapi dirinya. Hal yang paling membuat dirinya gelisah adalah, “Apakah Allah akan menerimanya di Tanah Suci nanti?”

Gurutta pun menjawabnya dengan tiga bagian. Pertama, bahwa cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Tidak perlu dilawan atau dilupakan, karena itu sudah menjadi bagian dari hidup. Dengan menerima, perlahan-lahan dia akan memudar disiram oleh waktu dan dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia (h. 312).

Kedua, tentang penilaian orang lain, tentang cemas diketahui orang lain siapa diri kita sebenarnya. Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang kehidupan kita, tidak perlu orang lain mengakui bahwa kita hebat. Karena hanya diri kita lah yang tahu apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak. Tugas kita adalah merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri. (h. 313).

Ketiga, tentang apakah Allah akan menerima haji seorang pelacur, jawabnya hanya Allah yang tahu dan itu adalah hak penuh Allah mau menerima atau tidak ibadah seseorang. Yang bisa kita lakukan adalah senantiasa berharap atas ampunan-Nya dan senantiasa takut dengan azab-Nya dengan selalu berbuat baik. (h. 315).

Pertanyaan ke dua datang dari Daeng Andipati, Ayah dari Anna dan Elsa. Seorang pebisnis sukses yang mempunyai istri cantik dan dua anak yang cerdas, terlihat mempunyai kehidupan yang bahagia. Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Sebongkah kebencian dalam hatinya lah yang membuat dirirnya bisa mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang bahagia. Benci yang sangat besar kepada seseorang yang seharusnya dia sayangi dan hormati, ayahnya. Racun kebencian yang muncul sejak dia remaja, karena kelakuan ayahnya yang sungguh tidak berperikemanusiaan. Dia licik dan culas dalam berdagang, banyak orang yang dirugikannya serta dia juga kerap memukul istrinya (Ibu Andipati). Lantas, bagaimana mengatasi kebencian?

Lagi-lagi Gurutta menjawab dengan tiga bagian. Pertama, ketika kita membenci orang lain, maka sesungguhnya kita sedang membenci diri sendiri. Kedua, sungguh kita berhak atas kedamaian dalam hati. Karenanya, dengan memaafkan ayahnya maka hati akan damai. Terakhir, dengan menutup lembaran lama yang penuh dengan coretan, dan membuka lembaran baru yang benar-benar kosong. 

Pertanyaaan ketiga datang dari Mbah Kakung, penumpang yang sudah sepuh (tua), pendengarannya sudah berkurang, kendati demikian dia selalu berlaku romantic kepada Mbah Putri, istrinya. Sesuatu yang dekat dengan kita dalam hidup ini adalah kematian. Pada perjalanan panjang di atas Kapal Blitar Holland tersebut, Mbah Putri menghembuskan nafas terakhirnya ketika sujud dalam sholat Shubuh. Inilah yang membuat Mbah Kakung galau terus-terusan sehingga tidak enak makan karena belahan jiwanya telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Bahkan sebelum mereka menatap Masjidil Haram bersama. Hingga Mbah Kakung melontarkan pertanyaannya pada Gurutta, “Kenapa kematian istrinya harus sekarang? Kenapa tidak bisa ditunda setelah selesai di Tanah Suci?”

Itulah takdir, kita harus bisa menerimanya dengan lapang hati, karena kita mau menerima atau menolaknya, dia akan tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli. Tugas kita adalah meyakini bahwa takdir Allah adalah yang terbaik. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita, begitu juga sebaliknya. Dan, ketika kesedihan menghampiri kita, biarkan waktu yang menghapus dan mengobati kesedihan kita (h. 471-473).

Ambo Uleng, adalah salah satu kelasi dapur yang salah satu tujuannya menaiki kapal adalah untuk pergi dan berlari sejauh-jauhnya. Dia lari dari seluruh kisah cintanya, karena gadis yang dicintainya telah dijodohkan oleh orang lain. Karena patah hati lah yang membuat dirinya berada di kapal itu dan melontarkan pertanyaan ‘apakah cinta sejati itu?’

Cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kamu melepaskannya. Lepaskanlah, maka besok lusa jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita, Jika dia tidak kembali, maka berarti dia bukan cinta sejatimu. Percayalah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Yakinlah, bahwa Allah adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi (h. 492).

Selanjutnya, pertanyaan kelima adalah datang dari Gurutta itu sendiri. Kesibukannya sehari-hari adalah menulis. Menulis adalah salah satu cara dia berdakwah mengajak kebenaran. Ketika satu buku telah selesai dia garap, tentara Belanda menemukannya di kabinnya, yang kemudian membuat dirinya dimasukkan dalam penjara karena buku tersebut berisi tentang ide-ide kemerdekaan. Hingga suatu ketika ada perompak yang berhasil masuk kapal yang ingin merebut kapal Blitar Holland. Semua penumpang hanya bisa diam ketakutan menghadapi perompak-perompak itu.

Ambo Uleng pun mempunyai ide untuk melawan para perompak itu. Dia melepaskan Gurutta dari penjara dan minta tolong untuk memberikan perintah kepada para penumpang agar mereka melawan para perompak itu. Sayangnya, Gurutta menolak karena jika mengadakan perlawanan, berarti harus siap ada korban jika perlawanan itu dimenangkan pihak musuh. Inilah masalahnya, dalam bukunya, seolah-olah Gurutta berkoar tentang kemerdekaan dan bagaimana harus mendapatkannya. Namun, ketika diminta melakukan perlawanan untuk sebuah kemerdekaan, dia malah menolaknya.Hingga Ambo Uleng menyadarkannya dengan kalimat “Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Dengan tanganmu, tebaskan pedang penuh gagah berani. Dengan lisanmu, sampaikan dengan perkasa. Atau dengan benci di dalam hati, tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman”.

Ambo Uleng lah yang menjawab pertanyaan besar Gurutta, perkara kemerdekaan tidak bisa dijawab dengan kalimat lisan atau tulisan. Tapi ia harus menjawabnya dengan perbuatan. Akhirnya dia menyetujui untuk menyerang perompak dan mau menuliskan pesan kepada para penumpang perihal penyerangan tersebut.

Begitulah Tere Liye menyampaikan pelajaran lewat buku-bukunya. Meramunya dengan alur cerita yang menakjubkan sehingga pembaca tidak merasa digurui. Nasihat-nasihat nya mudah menancap dalam otak dan hati yang kemudian bisa sebagai bahan renungan bagaimana seharusnya melangkah di kemudian hari.

Lantas, apa yang terjadi pada Bonda Upe, Andipati, Mbah Kakung, Ambo Uleng, dan Gurutta setelah melakukan perjalanan panjang tersebut? Temukan jawabannya dengan membaca novel “RINDU” nya Bang Tere. hehe.

2 komentar:

Like Me :)

Review Novel "RINDU" Tere Liye




RINDU Tere Liye

Judul : Rindu
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Kota Terbit : Jakarta
Cetakan IV, November 2014
“Bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja”.

Rindu, sebuah novel best seller karangan Tere Liye yang menceritakan perjalanan panjang kerinduan. Seperti novel yang lainnya, novel ini juga terdapat pelajaran yang sungguh berharga. Dengan bersetting zaman penjajahan, Tere Liye menceritakan perjalanan haji orang-orang Indonesia menggunakan kapal uap yang tidak secepat dan semudah sekarang saat merdeka dan didukung canggihnya alat transportasi. Bukan hanya tentang permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan oleh kapal uap yang akan kita temukan di sini, tapi kita juga akan menemukan banyak pelajaran tentang hidup lewat tokoh-tokoh di dalamnya.


Perjalanan haji memanglah perjalanan yang panjang, tidak hanya perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin seorang hamba yang rindu untuk bersimpuh kepada Tuhan di tempat yang sangat mulia. Kapal Blitar Holland adalah salah satu kapal yang berjasa membawa penumpang pada masa itu untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima. Tidak hanya dari satu pulau penumpangnya, melainkan dari seluruh pulau di Indonesia, beberapa orang dengan latar belakang dan sifat berbeda bertemu di sini.

Lima orang dengan kisah yang berbeda menciptakan lima pertanyaan untuk dijawab. Kisah-kisah tersebut menggambarkan masalah-masalah yang sering dihadapi oleh manusia dalam hidup. Tentang masa lalu yang memilukan, tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi, tentang kehilangan kekasih hati, tentang cinta sejati, dan tentang kemunafikan. Jawaban atas kisah-kisah berikut pertanyaan-pertanyaannya tersebut merupakan renungan sekaligus solusi bagaimana seharusnya menghadapi permasalahan tersebut.

Pertama, kisah tentang Bonda Upe. Penumpang Blitar Holland terdiri dari anak-anak dan orang dewasa. Pembelajaran membaca Al-Quran sangatlah penting bagi anak, karena itu Gurutta (orang alim yang paham agama dan orang yang paling dihormati) memberi amanah kepadanya untuk mengajar anak-anak mengaji. Namun, suatu saat dirinya bergejolak. Dia merasa tidak pantas dijadikan guru mengaji anak-anak, hingga dia memilih untuk berdiam diri di kabinnya, tidak makan di kantin kapal, tidak sholat di masjid, bahkan libur mengajar anak-anak mengaji. Sikapnya yang demikian membuat orang-orang dan anak didiknya terutama Anna dan Elsa (anak Andipati) penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada guru ngajinya. Karena setiap kedua anak itu beserta Gurutta ingin bertemu, Bonda Upe selalu menolak untuk menemuinya.

Pada suatu saat, ketika Bonda Upe dan suaminya menemukan waktu yang paa, mereka pun bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada Gurutta. Mereka yakin Gurutta lah orang yang tepat untuk memnyelesaikan masalahnya. Hingga terjawablah pertanyaan Gurutta tentang Bonda Upe yang terus menyendiri di kamar. Masalahnya tidak lain adalah masa lalu yang memilukan. Bonda Upe, guru mengaji anak-anak berkulit putih dan cantik bermata sipit (keturunan Cina) yang selalu dipandang kagum oleh Anna, dulunya adalah seorang pelacur, tepatnya terpaksa menjadi pelacur. Inilah yang membuat dirinya minder.

Dirinya takut kalau masa lalunya terbongkar sehingga orang-orang di kapal bakal mengerti kalau guru mengaji anak-anaknya adalah mantan pelacur. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana diejek dan dicaci oleh orang-orang. Bahkan dia juga takut kalau anak didiknya mengetahui bahwa orang yang mengajari mengaji mereka ternyata orang yang bejat. Biarpun dia sudah sebenar-benarnya taubat, namun perasaan takut ini selalu menghinggapi dirinya. Hal yang paling membuat dirinya gelisah adalah, “Apakah Allah akan menerimanya di Tanah Suci nanti?”

Gurutta pun menjawabnya dengan tiga bagian. Pertama, bahwa cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Tidak perlu dilawan atau dilupakan, karena itu sudah menjadi bagian dari hidup. Dengan menerima, perlahan-lahan dia akan memudar disiram oleh waktu dan dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia (h. 312).

Kedua, tentang penilaian orang lain, tentang cemas diketahui orang lain siapa diri kita sebenarnya. Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang kehidupan kita, tidak perlu orang lain mengakui bahwa kita hebat. Karena hanya diri kita lah yang tahu apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak. Tugas kita adalah merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri. (h. 313).

Ketiga, tentang apakah Allah akan menerima haji seorang pelacur, jawabnya hanya Allah yang tahu dan itu adalah hak penuh Allah mau menerima atau tidak ibadah seseorang. Yang bisa kita lakukan adalah senantiasa berharap atas ampunan-Nya dan senantiasa takut dengan azab-Nya dengan selalu berbuat baik. (h. 315).

Pertanyaan ke dua datang dari Daeng Andipati, Ayah dari Anna dan Elsa. Seorang pebisnis sukses yang mempunyai istri cantik dan dua anak yang cerdas, terlihat mempunyai kehidupan yang bahagia. Namun, yang terjadi tidaklah demikian. Sebongkah kebencian dalam hatinya lah yang membuat dirirnya bisa mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang bahagia. Benci yang sangat besar kepada seseorang yang seharusnya dia sayangi dan hormati, ayahnya. Racun kebencian yang muncul sejak dia remaja, karena kelakuan ayahnya yang sungguh tidak berperikemanusiaan. Dia licik dan culas dalam berdagang, banyak orang yang dirugikannya serta dia juga kerap memukul istrinya (Ibu Andipati). Lantas, bagaimana mengatasi kebencian?

Lagi-lagi Gurutta menjawab dengan tiga bagian. Pertama, ketika kita membenci orang lain, maka sesungguhnya kita sedang membenci diri sendiri. Kedua, sungguh kita berhak atas kedamaian dalam hati. Karenanya, dengan memaafkan ayahnya maka hati akan damai. Terakhir, dengan menutup lembaran lama yang penuh dengan coretan, dan membuka lembaran baru yang benar-benar kosong. 

Pertanyaaan ketiga datang dari Mbah Kakung, penumpang yang sudah sepuh (tua), pendengarannya sudah berkurang, kendati demikian dia selalu berlaku romantic kepada Mbah Putri, istrinya. Sesuatu yang dekat dengan kita dalam hidup ini adalah kematian. Pada perjalanan panjang di atas Kapal Blitar Holland tersebut, Mbah Putri menghembuskan nafas terakhirnya ketika sujud dalam sholat Shubuh. Inilah yang membuat Mbah Kakung galau terus-terusan sehingga tidak enak makan karena belahan jiwanya telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. Bahkan sebelum mereka menatap Masjidil Haram bersama. Hingga Mbah Kakung melontarkan pertanyaannya pada Gurutta, “Kenapa kematian istrinya harus sekarang? Kenapa tidak bisa ditunda setelah selesai di Tanah Suci?”

Itulah takdir, kita harus bisa menerimanya dengan lapang hati, karena kita mau menerima atau menolaknya, dia akan tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Tidak peduli. Tugas kita adalah meyakini bahwa takdir Allah adalah yang terbaik. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Segala sesuatu yang kita anggap buruk, boleh jadi baik untuk kita, begitu juga sebaliknya. Dan, ketika kesedihan menghampiri kita, biarkan waktu yang menghapus dan mengobati kesedihan kita (h. 471-473).

Ambo Uleng, adalah salah satu kelasi dapur yang salah satu tujuannya menaiki kapal adalah untuk pergi dan berlari sejauh-jauhnya. Dia lari dari seluruh kisah cintanya, karena gadis yang dicintainya telah dijodohkan oleh orang lain. Karena patah hati lah yang membuat dirinya berada di kapal itu dan melontarkan pertanyaan ‘apakah cinta sejati itu?’

Cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kamu melepaskannya. Lepaskanlah, maka besok lusa jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita, Jika dia tidak kembali, maka berarti dia bukan cinta sejatimu. Percayalah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Yakinlah, bahwa Allah adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi (h. 492).

Selanjutnya, pertanyaan kelima adalah datang dari Gurutta itu sendiri. Kesibukannya sehari-hari adalah menulis. Menulis adalah salah satu cara dia berdakwah mengajak kebenaran. Ketika satu buku telah selesai dia garap, tentara Belanda menemukannya di kabinnya, yang kemudian membuat dirinya dimasukkan dalam penjara karena buku tersebut berisi tentang ide-ide kemerdekaan. Hingga suatu ketika ada perompak yang berhasil masuk kapal yang ingin merebut kapal Blitar Holland. Semua penumpang hanya bisa diam ketakutan menghadapi perompak-perompak itu.

Ambo Uleng pun mempunyai ide untuk melawan para perompak itu. Dia melepaskan Gurutta dari penjara dan minta tolong untuk memberikan perintah kepada para penumpang agar mereka melawan para perompak itu. Sayangnya, Gurutta menolak karena jika mengadakan perlawanan, berarti harus siap ada korban jika perlawanan itu dimenangkan pihak musuh. Inilah masalahnya, dalam bukunya, seolah-olah Gurutta berkoar tentang kemerdekaan dan bagaimana harus mendapatkannya. Namun, ketika diminta melakukan perlawanan untuk sebuah kemerdekaan, dia malah menolaknya.Hingga Ambo Uleng menyadarkannya dengan kalimat “Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Dengan tanganmu, tebaskan pedang penuh gagah berani. Dengan lisanmu, sampaikan dengan perkasa. Atau dengan benci di dalam hati, tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman”.

Ambo Uleng lah yang menjawab pertanyaan besar Gurutta, perkara kemerdekaan tidak bisa dijawab dengan kalimat lisan atau tulisan. Tapi ia harus menjawabnya dengan perbuatan. Akhirnya dia menyetujui untuk menyerang perompak dan mau menuliskan pesan kepada para penumpang perihal penyerangan tersebut.

Begitulah Tere Liye menyampaikan pelajaran lewat buku-bukunya. Meramunya dengan alur cerita yang menakjubkan sehingga pembaca tidak merasa digurui. Nasihat-nasihat nya mudah menancap dalam otak dan hati yang kemudian bisa sebagai bahan renungan bagaimana seharusnya melangkah di kemudian hari.

Lantas, apa yang terjadi pada Bonda Upe, Andipati, Mbah Kakung, Ambo Uleng, dan Gurutta setelah melakukan perjalanan panjang tersebut? Temukan jawabannya dengan membaca novel “RINDU” nya Bang Tere. hehe.

2 komentar:

Blog Design by W-Blog