Sabtu, 20 Agustus 2016

Waspada Penipuan part 2


Awal bulan, 1 Agustus 2016 saat jarum jam menunjukkan pukul 12.30 jari jemariku lagi asyik menari di atas tuts-tuts angka. Sayangnya, kedatangan seorang perempuan menghalangiku mengetahui jumlah uang yang masuk kemarin.


“Mas nya gak ada to?” tanyanya tiba-tiba dengan helm masih bertengger di kepala.
Aku menggeleng.
“Minta nomornya kalau begitu”
“Gak punya mbak”
“Mbaknya, punya?”
“Punya” jawabku sambil membuka HP mencari nama yang dimaksudnya.
Lisanku mengeja dan jarinya mengetik nomor hp tersebut ke HP putihnya.
 “Sekarang sudah gak buka apotik di Gondang lagi ya mbaknya?” tanyanya sebelum teleponnya diangkat.
“Siapa lho mbak?” tanyaku.
“Dulu mbaknya pernah buka apotik juga di Gondang” jelasnya singkat.
Aku hanya mengangguk sedikit bingung dengan apa yang ia katakan. Siapa sih orang ini, kok bisa bilang tentang bos ku seperti itu. Padahal, selama beberapa bulan di sini, tidak ada cerita yang menyebutnya seperti itu.
“Hallo mbak, nanti bagaimana aku? Ini aku sudah ada di apotikmu” dia memulai pembicaraannya via telepon dan aku hanya melihatnya sambil menebak-nebak ke arah mana percakapan itu.
“Madu, mbak” datangnya seorang bapak membuatku meninggalkan si mbak-mbak hitam gendut yang sedang asyik berbicara.
Kuambilkan sebotol madu yang bapak minta itu. Si bapak memberiku uang dan langsung pergi membawa madunya. Kemudian datanglah seseorang membeli pimtracol .
“Iya, mbak e masih melayani pembeli” begitulah kalimat si mbak hitam yang aku dengar ketika aku mengambilkan pimtracol.
Pembeli pimtracol sudah pergi dan menyisakan si mbak hitam yang masih setia dengan hp yang menempel di telinganya. Sedang aku kembali duduk manis mendengarkan dia berbicara.
“Iya, kayaknya mbak nya ini belum pernah melihat aku” katanya. “Masih lihat aku pertama ini ya mbak?” tanyanya kepadaku memastikan yang hanya kujawab dengan senyum dan anggukan.
“Ada uang lima ratus?” tanyanya padaku tetap belum melepaskan hp nya yang menyepit dalam helmnya.
“Gak ada” jawabku.
“Gak ada, mbak” katanya pada mbak bos ku yang ditelpon seperti menyampaikan pesanku.
“Adanya uang kemarin”.
“Uang kemarin mbak katanya adanya, bagaimana?” tanyanya pada bosku. “Kalau sama hari ini ada?” lanjutnya berkata padaku, sepertinya menyampaikan apa yang dikatakan orang di telpon itu.
Kuintip laci uang sebentar, “Iya, ada”.
“Ya sudah setelah ini aku ke sana” dia mengakhiri teleponnya.
“Sekarang ganti kamu ya mbak yang jaga? Dulu kan bukan kamu” jelasnya.
Aku memutar otak lagi. Hey, aku lho karyawati pertama di toko obat ini? “Lha siapa to mbak? Apotik ini lho masih baru” kataku.
“Dua tahun yang lalu ada apotik sebelum apotik ini mbak” jelasnya seperti orang yang benar-benar tahu.
Hooeeee, orang mana sih ini? Omangannya gak ada yang bener. Jelas-jelas bangunan ini bekas toko baju.
“Iya to mbak?” aku berpura-pura menanggapi celotehnya yang abal-abal.
“Iya lho mbak” jawabnya triple yakin. Keyakinan yang 160 % salah.
“Begini mbak tadi, saya disuruh bos mbak untuk menukar uang 500k” lanjutnya,hp nya sudah tidak menempel di telinga. “Uang pecah, nanti saya tukar dengan uang utuh”.
Aku memperlihatkan wajah berfikir, “Gimana lho mbak maksudnya? Terus kalau ada uang kembalian untuk pembeli, saya pakai apa?”
“Nanti kamu ambil di rumah saya mbak, rumah saya jual helm-helm itu lho, tahu kan?” katanya sambil menunjukkan jari telunjuknya kea rah selatan toko.
Aku teringat dengan cerita teman saya yang juga pernah diminta uang seseorang atas nama bosnya, yang katanya untuk pembayaran etalase. Aku pun minta penjelasan yang sebenar-benarnya. Beberapa pertanyaan aku lontarkan sengaja untuk menunda memberikan uangnya.
“Masa kamu tetap gak paham juga mbak” tanyanya ketika melihat aku tak jua mengambil uang.
Ya iyalah aku gak paham, tuker uang kok gak bawa uangnya, kataku membatin.
“Iya, paham mbak, sekarang uangnya mana?” tanyaku kemudian.
“Gini lho mbak, nanti kamu ambil di toko helm deket itu, sebentar saja gak apa-apa kan ninggal toko” jawabnya enteng. “Rumahku depan warung pecel Krisna itu lho mbak”.
“Pecel Krisna mana lho mbak? Apa ada warung pecel Krisna deket lampu merah Bandung? Adanya pecel Bima” sergahku.
“Iya itu pecel Krisna Bima itu namanya”
Aku memikirkan lagi, membayangkan tulisan-tulisan yang terpampang di kafe Bima. Dan otakku tak juga mengingat kata Krisna Bima dari semua tulisan di sana.
Aneh.
“Gimana mbak, aku sudah ditunggu orang sana mbak, keburu sore lho”.
“Uangnya kok gak dibawa ta mbak?”
“Tadi saya pikir mbak mu ada, ternyata tidak ada. Sudahlah kamu ambil saja nanti di toko helm itu”.
“Kenapa tidak kamu ambil dulu mbak? Kan cuma dekat?”
“Aku buru-buru mbak, dibilangin sudah ditunggu, cepetlah mbak” paksanya. “Uang 2 ribuan dibuat slametan”.
“Slametan apa lhoh mbak?” tanyaku memastikan kalau dia benar-benar orang yang dapat dipercaya atau tidak.
“Ngirin leluhur mbak” jawabnya.
Keluarga bosku siapa ya yang meninggal? Aku kok gak tahu info? Bukannya bosku baru saja melahirkan? Daripada uang 500k melayang gak jelas, aku pun mengambil Samsung hitam kecilku, mengetik sebuah pesan.
“Cepat lhoh mbak, sudah jam 1 itu lho” dia terus memaksa.
Aku tersenyum, “iya sebentar ya mbak” kataku sambil mengetik pesan.
“Masa kamu gak percaya sama saya mbak?” tanyanya lagi.
“Iya mbak, sebentar” jawabku tetap dengan senyum. Ya iyalah aku curiga, kenal saja tidak akunya.
“Hallo mbak, karyawanmu kok gak percaya sama saya mbak?” orang itu berbicara di telpon lagi.
Tuliiinnggg. 1 pesan diterima, langsung saya buka dengan deg deg.
Uang apa? Bohong itu, saya tidak menyuruh orang ambil uang. Jangan diberi.
Membaca pesan itu langsung membuat aku gemeteran. Tidak ada orang sama sekali di sekitar toko. Apa yang akan dilakukan orang ini jika saya tak mau memberinya uang? Pikiran-pikiran negatif melayang di otakku.
“Katanya kok tidak to mbak” kataku padanya. Ada rasa tenang karena uang tidak jadi pindah ke tangan TUTI alias tukang tipu itu. Tapi, rasa takut juga menimpa, takut kalau orang itu nekat berbuat jahat gegara tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Mendengar pernyataanku, wajahnya terlihat kaget, takut, pokoknya seperti itulah, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Kok tidak bagaimana to? Mana coba SMS nya mbak?”
Aku pun memperlihatkan pesan dari bosku tersebut, pesan yang menyatakan kalau orang itu berbohong.
Selesai membaca, dia pun menelpon lagi, “Berbohong gimana to mbak?”
“Gimana mbak, sudah jam 1 itu lho?”
Tetap itu saja yang dikatakan. Kemudian aku berpikir, ada apa dengan jam 1?
“Gimana ya mbak, lha katanya mbaknya kok tidak. Kamu salah orang mungkin mbak?” tanyaku berusaha membuatnya tidak marah.
“Enggak mbak, benar kok” katanya dengan wajah-kalau aku boleh bilang- Ingah Ingih. “Ya sudah mbak kalau gitu, nanti saya kesini lagi” lanjutnya.
“Iya mbak”
Berbaliklah orang itu dari hadapanku. Inginnya aku menghafal plat motornya, sayang tidak terlihat. Kulihat punggung orang itu dengan geleng-geleng. Kok ada-ada saja modusnya ngedapetin uang haram. Tuhan, berilah kesadaran baginya.
Kurebahkan badanku di kursi putar. Meski ada sisa perasaan getir, namun setidaknya sedikit lega karena aku tidak jadi tertipu. Sungguh hebat perlindungan-Mu Tuhan. Maka nikmat mana lagi yang aku dustakan? Kejadian ini harus aku syukuri, karena dengan lindungan-Nya aku tidak merugikan siapapun.
Sayangnya satu, aku tidak sempat memotret sosok tukang tipu tersebut. Jadinya ya begini, fotonya tidak terpampang di blog ini, eh.
Jangan terlalu percaya dengan orang yang tidak benar-benar kau kenal.
Mungkin itulah nasihat yang bisa diambil dari cerita ku tersebut.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Me :)

Waspada Penipuan part 2


Awal bulan, 1 Agustus 2016 saat jarum jam menunjukkan pukul 12.30 jari jemariku lagi asyik menari di atas tuts-tuts angka. Sayangnya, kedatangan seorang perempuan menghalangiku mengetahui jumlah uang yang masuk kemarin.


“Mas nya gak ada to?” tanyanya tiba-tiba dengan helm masih bertengger di kepala.
Aku menggeleng.
“Minta nomornya kalau begitu”
“Gak punya mbak”
“Mbaknya, punya?”
“Punya” jawabku sambil membuka HP mencari nama yang dimaksudnya.
Lisanku mengeja dan jarinya mengetik nomor hp tersebut ke HP putihnya.
 “Sekarang sudah gak buka apotik di Gondang lagi ya mbaknya?” tanyanya sebelum teleponnya diangkat.
“Siapa lho mbak?” tanyaku.
“Dulu mbaknya pernah buka apotik juga di Gondang” jelasnya singkat.
Aku hanya mengangguk sedikit bingung dengan apa yang ia katakan. Siapa sih orang ini, kok bisa bilang tentang bos ku seperti itu. Padahal, selama beberapa bulan di sini, tidak ada cerita yang menyebutnya seperti itu.
“Hallo mbak, nanti bagaimana aku? Ini aku sudah ada di apotikmu” dia memulai pembicaraannya via telepon dan aku hanya melihatnya sambil menebak-nebak ke arah mana percakapan itu.
“Madu, mbak” datangnya seorang bapak membuatku meninggalkan si mbak-mbak hitam gendut yang sedang asyik berbicara.
Kuambilkan sebotol madu yang bapak minta itu. Si bapak memberiku uang dan langsung pergi membawa madunya. Kemudian datanglah seseorang membeli pimtracol .
“Iya, mbak e masih melayani pembeli” begitulah kalimat si mbak hitam yang aku dengar ketika aku mengambilkan pimtracol.
Pembeli pimtracol sudah pergi dan menyisakan si mbak hitam yang masih setia dengan hp yang menempel di telinganya. Sedang aku kembali duduk manis mendengarkan dia berbicara.
“Iya, kayaknya mbak nya ini belum pernah melihat aku” katanya. “Masih lihat aku pertama ini ya mbak?” tanyanya kepadaku memastikan yang hanya kujawab dengan senyum dan anggukan.
“Ada uang lima ratus?” tanyanya padaku tetap belum melepaskan hp nya yang menyepit dalam helmnya.
“Gak ada” jawabku.
“Gak ada, mbak” katanya pada mbak bos ku yang ditelpon seperti menyampaikan pesanku.
“Adanya uang kemarin”.
“Uang kemarin mbak katanya adanya, bagaimana?” tanyanya pada bosku. “Kalau sama hari ini ada?” lanjutnya berkata padaku, sepertinya menyampaikan apa yang dikatakan orang di telpon itu.
Kuintip laci uang sebentar, “Iya, ada”.
“Ya sudah setelah ini aku ke sana” dia mengakhiri teleponnya.
“Sekarang ganti kamu ya mbak yang jaga? Dulu kan bukan kamu” jelasnya.
Aku memutar otak lagi. Hey, aku lho karyawati pertama di toko obat ini? “Lha siapa to mbak? Apotik ini lho masih baru” kataku.
“Dua tahun yang lalu ada apotik sebelum apotik ini mbak” jelasnya seperti orang yang benar-benar tahu.
Hooeeee, orang mana sih ini? Omangannya gak ada yang bener. Jelas-jelas bangunan ini bekas toko baju.
“Iya to mbak?” aku berpura-pura menanggapi celotehnya yang abal-abal.
“Iya lho mbak” jawabnya triple yakin. Keyakinan yang 160 % salah.
“Begini mbak tadi, saya disuruh bos mbak untuk menukar uang 500k” lanjutnya,hp nya sudah tidak menempel di telinga. “Uang pecah, nanti saya tukar dengan uang utuh”.
Aku memperlihatkan wajah berfikir, “Gimana lho mbak maksudnya? Terus kalau ada uang kembalian untuk pembeli, saya pakai apa?”
“Nanti kamu ambil di rumah saya mbak, rumah saya jual helm-helm itu lho, tahu kan?” katanya sambil menunjukkan jari telunjuknya kea rah selatan toko.
Aku teringat dengan cerita teman saya yang juga pernah diminta uang seseorang atas nama bosnya, yang katanya untuk pembayaran etalase. Aku pun minta penjelasan yang sebenar-benarnya. Beberapa pertanyaan aku lontarkan sengaja untuk menunda memberikan uangnya.
“Masa kamu tetap gak paham juga mbak” tanyanya ketika melihat aku tak jua mengambil uang.
Ya iyalah aku gak paham, tuker uang kok gak bawa uangnya, kataku membatin.
“Iya, paham mbak, sekarang uangnya mana?” tanyaku kemudian.
“Gini lho mbak, nanti kamu ambil di toko helm deket itu, sebentar saja gak apa-apa kan ninggal toko” jawabnya enteng. “Rumahku depan warung pecel Krisna itu lho mbak”.
“Pecel Krisna mana lho mbak? Apa ada warung pecel Krisna deket lampu merah Bandung? Adanya pecel Bima” sergahku.
“Iya itu pecel Krisna Bima itu namanya”
Aku memikirkan lagi, membayangkan tulisan-tulisan yang terpampang di kafe Bima. Dan otakku tak juga mengingat kata Krisna Bima dari semua tulisan di sana.
Aneh.
“Gimana mbak, aku sudah ditunggu orang sana mbak, keburu sore lho”.
“Uangnya kok gak dibawa ta mbak?”
“Tadi saya pikir mbak mu ada, ternyata tidak ada. Sudahlah kamu ambil saja nanti di toko helm itu”.
“Kenapa tidak kamu ambil dulu mbak? Kan cuma dekat?”
“Aku buru-buru mbak, dibilangin sudah ditunggu, cepetlah mbak” paksanya. “Uang 2 ribuan dibuat slametan”.
“Slametan apa lhoh mbak?” tanyaku memastikan kalau dia benar-benar orang yang dapat dipercaya atau tidak.
“Ngirin leluhur mbak” jawabnya.
Keluarga bosku siapa ya yang meninggal? Aku kok gak tahu info? Bukannya bosku baru saja melahirkan? Daripada uang 500k melayang gak jelas, aku pun mengambil Samsung hitam kecilku, mengetik sebuah pesan.
“Cepat lhoh mbak, sudah jam 1 itu lho” dia terus memaksa.
Aku tersenyum, “iya sebentar ya mbak” kataku sambil mengetik pesan.
“Masa kamu gak percaya sama saya mbak?” tanyanya lagi.
“Iya mbak, sebentar” jawabku tetap dengan senyum. Ya iyalah aku curiga, kenal saja tidak akunya.
“Hallo mbak, karyawanmu kok gak percaya sama saya mbak?” orang itu berbicara di telpon lagi.
Tuliiinnggg. 1 pesan diterima, langsung saya buka dengan deg deg.
Uang apa? Bohong itu, saya tidak menyuruh orang ambil uang. Jangan diberi.
Membaca pesan itu langsung membuat aku gemeteran. Tidak ada orang sama sekali di sekitar toko. Apa yang akan dilakukan orang ini jika saya tak mau memberinya uang? Pikiran-pikiran negatif melayang di otakku.
“Katanya kok tidak to mbak” kataku padanya. Ada rasa tenang karena uang tidak jadi pindah ke tangan TUTI alias tukang tipu itu. Tapi, rasa takut juga menimpa, takut kalau orang itu nekat berbuat jahat gegara tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Mendengar pernyataanku, wajahnya terlihat kaget, takut, pokoknya seperti itulah, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Kok tidak bagaimana to? Mana coba SMS nya mbak?”
Aku pun memperlihatkan pesan dari bosku tersebut, pesan yang menyatakan kalau orang itu berbohong.
Selesai membaca, dia pun menelpon lagi, “Berbohong gimana to mbak?”
“Gimana mbak, sudah jam 1 itu lho?”
Tetap itu saja yang dikatakan. Kemudian aku berpikir, ada apa dengan jam 1?
“Gimana ya mbak, lha katanya mbaknya kok tidak. Kamu salah orang mungkin mbak?” tanyaku berusaha membuatnya tidak marah.
“Enggak mbak, benar kok” katanya dengan wajah-kalau aku boleh bilang- Ingah Ingih. “Ya sudah mbak kalau gitu, nanti saya kesini lagi” lanjutnya.
“Iya mbak”
Berbaliklah orang itu dari hadapanku. Inginnya aku menghafal plat motornya, sayang tidak terlihat. Kulihat punggung orang itu dengan geleng-geleng. Kok ada-ada saja modusnya ngedapetin uang haram. Tuhan, berilah kesadaran baginya.
Kurebahkan badanku di kursi putar. Meski ada sisa perasaan getir, namun setidaknya sedikit lega karena aku tidak jadi tertipu. Sungguh hebat perlindungan-Mu Tuhan. Maka nikmat mana lagi yang aku dustakan? Kejadian ini harus aku syukuri, karena dengan lindungan-Nya aku tidak merugikan siapapun.
Sayangnya satu, aku tidak sempat memotret sosok tukang tipu tersebut. Jadinya ya begini, fotonya tidak terpampang di blog ini, eh.
Jangan terlalu percaya dengan orang yang tidak benar-benar kau kenal.
Mungkin itulah nasihat yang bisa diambil dari cerita ku tersebut.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Design by W-Blog