Jumat, 23 Juni 2017

Kisah Gelas dan Cikrak: Seperti Apa Hati Ini?

Senin, 19 Juni 2016 aku diundang buka bersama oleh salah satu teman kuliah, yaitu Bu Wiwik Sunarsih. Dalam acara tersebut, Bu Wiwik sekeluarga mengundang salah satu dosen dari IAIN Tulungagung untuk memberikan mauidzoh hasanah. Beliau adalah Dr. H. M. Muntahibun Nafis, M. Ag.

Materi yang disampaikan sungguh menarik. Beliau berusaha menyadarkan bagaimanakah kondisi hati kami saat ini. Jika diibaratkan dengan dua buah benda, gelas dan cikrak yang dituangi air, maka seperti benda yang manakah hati ini?


Gelas, suatu benda di mana jika air dituangkan ke dalam benda tersebut, tentu dia akan menerimanya atau dia siap untuk menjadi wadah air tersebut. Namun apakah hal yang sama juga terjadi pada cikrak? Sudah tahu apa itu cikrak? Ya, cikrak adalah benda yang terbuat dari anyaman bambu yang berguna untuk mengangkut sampah sebelum sampah sampai di tempat terakhirnya. Ketika air dituangkan dalam benda tersebut, apa yang terjadi? Tentu dia tidak mampu mewadahi air layaknya gelas tadi, dia hanya bisa membiarkan air melewati dirinya sehingga dia basah.

Cikrak diambil dari http://soloevent.id/wp-content/uploads/2014/10/ada-cikrak-di-album-fisip-meraung-post__.jpg 

Lalu, seperti gelas atau cikrak kah hati ini???

Cikrak lah jawabannya. Kenapa?

Jika setiap hari kita sholat, membaca Al-Quran, dzikir, dan membaca sholawat, apakah hati kita juga ikut hadir ketika melaksanakan ibadah tersebut? Apakah hati kita sudah memahami apa yang kita ucapkan saat solat, membaca Al-Quran, dzikir, dan membaca sholawat??

99.9 persen jawabannya adalah belum (untuk diriku sendiri).

Itulah mengapa hati ini masih diibaratkan dengan cikrak. Kendati demikian, kita harus tetap bahkan harus rajin melaksanakan amalan tersebut. Rajin membaca Al-Quran, dzikir, sholawat meski tidak mengerti maknanya. Mungkin akan muncul pertanyaan "Tidakkah hal itu sia-sia"?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa melakukan percobaan menyiram cikrak dengan air bersih berulang-ulang kali. Apakah sia-sia kegiatan kita menuangkan air pada benda yang tidak mampu mewadahinya?

Tidak

Bukankah cikrak yang saban harinya terkena sampah atau kotoran itu akan bersih seiring dengan seringnya air bersih yang dituangkan?


Nah, PR kita selanjutnya adalah tidak berhenti pada cikrak yang terbuat dari bambu. Tapi berusaha sedikit demi sedikit untuk menjadi gelas yang selalu siap mewadahi air bersih yang dituangkan ke dalamnya.

Pak Nafis ketika memberikan mauidzoh hasanah

Pasca PAI-C IAIN Tulungagung 2017-2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Me :)

Kisah Gelas dan Cikrak: Seperti Apa Hati Ini?

Senin, 19 Juni 2016 aku diundang buka bersama oleh salah satu teman kuliah, yaitu Bu Wiwik Sunarsih. Dalam acara tersebut, Bu Wiwik sekeluarga mengundang salah satu dosen dari IAIN Tulungagung untuk memberikan mauidzoh hasanah. Beliau adalah Dr. H. M. Muntahibun Nafis, M. Ag.

Materi yang disampaikan sungguh menarik. Beliau berusaha menyadarkan bagaimanakah kondisi hati kami saat ini. Jika diibaratkan dengan dua buah benda, gelas dan cikrak yang dituangi air, maka seperti benda yang manakah hati ini?


Gelas, suatu benda di mana jika air dituangkan ke dalam benda tersebut, tentu dia akan menerimanya atau dia siap untuk menjadi wadah air tersebut. Namun apakah hal yang sama juga terjadi pada cikrak? Sudah tahu apa itu cikrak? Ya, cikrak adalah benda yang terbuat dari anyaman bambu yang berguna untuk mengangkut sampah sebelum sampah sampai di tempat terakhirnya. Ketika air dituangkan dalam benda tersebut, apa yang terjadi? Tentu dia tidak mampu mewadahi air layaknya gelas tadi, dia hanya bisa membiarkan air melewati dirinya sehingga dia basah.

Cikrak diambil dari http://soloevent.id/wp-content/uploads/2014/10/ada-cikrak-di-album-fisip-meraung-post__.jpg 

Lalu, seperti gelas atau cikrak kah hati ini???

Cikrak lah jawabannya. Kenapa?

Jika setiap hari kita sholat, membaca Al-Quran, dzikir, dan membaca sholawat, apakah hati kita juga ikut hadir ketika melaksanakan ibadah tersebut? Apakah hati kita sudah memahami apa yang kita ucapkan saat solat, membaca Al-Quran, dzikir, dan membaca sholawat??

99.9 persen jawabannya adalah belum (untuk diriku sendiri).

Itulah mengapa hati ini masih diibaratkan dengan cikrak. Kendati demikian, kita harus tetap bahkan harus rajin melaksanakan amalan tersebut. Rajin membaca Al-Quran, dzikir, sholawat meski tidak mengerti maknanya. Mungkin akan muncul pertanyaan "Tidakkah hal itu sia-sia"?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita bisa melakukan percobaan menyiram cikrak dengan air bersih berulang-ulang kali. Apakah sia-sia kegiatan kita menuangkan air pada benda yang tidak mampu mewadahinya?

Tidak

Bukankah cikrak yang saban harinya terkena sampah atau kotoran itu akan bersih seiring dengan seringnya air bersih yang dituangkan?


Nah, PR kita selanjutnya adalah tidak berhenti pada cikrak yang terbuat dari bambu. Tapi berusaha sedikit demi sedikit untuk menjadi gelas yang selalu siap mewadahi air bersih yang dituangkan ke dalamnya.

Pak Nafis ketika memberikan mauidzoh hasanah

Pasca PAI-C IAIN Tulungagung 2017-2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Design by W-Blog