Jumat, 18 Maret 2016

Ujian Komprehensive sebagai Sarana Muhasabah

Pada semester genap, salah satu agenda kampus kami adalah mengadakan ujian komprehensif untuk mahasiswa semester tua (minimal smt 8). Apa itu ujian komprehensif?? Komprehensif mempunyai makna menyeluruh. Jadi, ujian komprehensif adalah sebuah ujian yang mana hal-hal yang diujikan adalah keseluruhan materi yang telah dipelajari selama 3,5 tahun menimba ilmu. Untuk fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan jurusan Pendidikan Agama Islam, yang menjadi bahan ujian adalah tentang Keislaman, Pendidikan dan Pembelajaran, Keilmuan PAI pada SMP/SMA dan sederajat, serta ilmu Penelitian. Dengar-dengar ujian ini sudah dihapuskan, eh ternyata masih nongol juga di kampus kami. Hukum mengikutinya adalah wajib karena ini adalah pra-syarat sidang skripsi. Ya sudah lah mau gimana lagi, meskipun dengan detak jantung tak karuan, kita harus kuat dan semangat menghadapinya, teman!


Gelombang pertama ujian ini jatuh pada tanggal 15-17 Maret 2016. Sebagian besar mahasiswa memilih pada gelombang ini, termasuk teman-temanku. Wajar saja jika umpan BBM dan beranda Facebook ku dipenuhi dengan status-status tentang ujian komprehensif, entah itu isinya tentang memotivasi dirinya dan teman lainnya untuk semangat belajar, doa-doa agar diberi kelancaran, rasa syukur karena momok ujian kompre sudah tinggal sejarah, maupun keluh kesah mereka karena meninggalkan jejak sejarah kompre yang menyebalkan. Oh ya, ada salah satu akun yang bilang, “perjuangan 3,5 tahun hanya ditentukan pada 30 menit ujian komprehensif” benarkah demikian?? Eh, mulai nglupain skripsinya vrooohhh???? :3

Tidak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun demikian. Selesai ujian, sebagian teman-teman juga saling berbagi kisah kompre mereka. Sepertinya ada kebahagiaan tersendiri setelah mereka menceritakan pada teman-temannya. Untuk yang tidak bercerita, mungkin mereka menganggap kalau kisah mereka tidak perlu diumbar ke publik. Gak usah dipaksa-paksa lah. Itu HAM! :D



Suasana Ujian Komprehensif
Dari cerita teman-teman dan pengalaman sendiri, aku akan menyampaikan beberapa hal. Pertama, penguasaan materi memang menentukan hasil akhir ujian kompre, lulus atau mengulang. Namun, tak bisa dipungkiri, siapa dan bagaimana dosennya juga sangat mempengaruhi, bahkan menurutku lebih mempengaruhi dari pada yang pertama. Bagaimana tidak? Ketika mungkin kita menganggap sudah belajar sungguh-sungguh dan cukup menguasai kisi-kisi yang ada, namun mendapat dosen penguji yang pertanyaannya jauh dari itu semua, apa yang akan dilakukan? Mungkin menjawab ngawur ataupun berkata “PAS” adalah solusinya. Belum lagi, kalau dosen tersebut cukup pelit untuk masalah nilai, pasti bayangan “Mengulang” selalu mengikuti. Beda dengan ketika mendapat dosen yang katakanlah lumayan “woles”, pertanyaan yang dilontarkan begitu mudah serta sebagian besar soal bisa ditaklukkan, pasti keluar ruangan rasanya plooonnggg banget. 

Banyak yang menyebut keadaan yang demikian itu dengan sebutan “bejo-bejan”, “nasib-nasiban”, dan “untung-untungan” atau bisa jadi “kebetulan”, kebetulan dapat dosen killer jadinya mengulang, kebetulan dapat dosen mudah alhamdulillah lulus. Aku setuju saja dengan masalah “kebetulan” tersebut, namun tiba-tiba jadi teringat quote di akun FB bang Tere Liye yang berbunyi kurang lebih seperti ini, “Tidak ada kebetulan di muka bumi ini, yang ada semua telah menjadi skenario dari Tuhan”. Aku gak jadi setuju kalo begono, hehehehe. Ya, karena semuanya memang sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur.

Mungkin akan ada pernyataan, “Gak usah lah belajar rajin, kalo pas mujur pasti lulus kan?” atau macam ini, “Buat apa belajar, kalo gak ada materi (yang kita pelajari) yang keluar?”. Uuuupppsss, yang demikian itu pemikiran yang salah kaprah teman. Dalam akun instagram, seorang cowok keren berujar, “Tujuan Tuhan menciptakan kita bukan untuk GAGAL atau SUKSES, melainkan untuk BERUSAHA”. Ingat terus kalimat ini ya,,,, hehehehe. Masalah lulus ataupun mengulang seharusnya kita serahkan pada Allah, yang penting tetap berusaha dan berdoa.

Kedua, masih tentang dosen penguji namun beda ceritanya. Ada yang cerita ke aku bahwasanya dari sekian banyak soal, dia dan teman-temannya hanya BISA MENJAWAB SATU SOAL. Namun selesai ujian, dosen langsung mengumumkan bahwa mereka mendapatkan nilai B. Senang bukan??? Padahal, selain mereka, juga ada mahasiswa yang mendapatkan nilai B karena TIDAK BISA MENJAWAB SATU DUA SOAL saja. Apakah ini adil?? 

Pasti banyak yang menyatakan itu tidak adil, kan? Namun mau bagaimana lagi? Kita kembalikan saja ke poin pertama, dosen adalah salah satu penentu kelulusan. Setiap dosen memiliki ketentuan penilaian yang berbeda. Jadi, bisa dikatakan nilai yang diperoleh hanyalah ke-relatif-an. Jika seseorang memperoleh nilai yang lebih baik dari teman yang dosen pengujinya berbeda, bukan berarti dia lebih pandai dari temannya tersebut, begitu juga sebaliknya. Karenanya, tidak usahlah menjadikan nilai tersebut sebagai ukuran dari kepandaian. 

Ketiga, dan mungkin ini yang terakhir, selayaknya kita menjadikan ujian komprehensif ini sebagai sarana untuk muhasabah. Di atas telah disinggung bahwasanya nilai dari dosen tidak tepat kalau dijadikan ukuran pengetahuan kita selama 3,5 tahun menempuh ilmu. Karena yang tahu hal tersebut adalah diri kita masing-masing. Ketika soal-soal yang keluar adalah soal yang tidak kita ketahui jawabannya, padahal kita sadar bahwasanya seharusnya kita mengetahuinya, maka kita harus belajar lagi agar pengetahuan kita bertambah sekaligus bermanfaat.

Sebagai contoh adalah mahasiswa jurusan PAI, ketika disuruh membaca al-Quran masih grotal gratul alias belum lancar, ditanya ilmu tajwid masih kebingungan, ditanya doa-doa keseharian belum bisa, doa sholat dhuha belum bisa, belum hafal surat-surat pendek, menyebut nama surat pendek masih salah, bacaan sholat belum lancar, tidak tahu atau lupa tempat wuquf (yang satu ini adalah pengalaman pribadi hehehe), dan masih banyak lagi. Kuliah di Institut Agama Islam yang kesehariannya mempelajari ilmu keislaman, tidak sewajarnya jika hal-hal tersebut belum dikuasai.

Kita lah yang mengetahui kemampuan diri kita, gak usah terpacu pada nilai yang diberi dosen. Mari bermuhasabah! Mari pelajari hal-hal apa saja yang kita rasa belum kita kuasai, menghafal doa apa saja yang belum dihafal. Sehingga ke depannya kita bisa lebih baik lagi baik ilmu dan amalan kita sehari-hari. Amiiiinnn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Me :)

Ujian Komprehensive sebagai Sarana Muhasabah

Pada semester genap, salah satu agenda kampus kami adalah mengadakan ujian komprehensif untuk mahasiswa semester tua (minimal smt 8). Apa itu ujian komprehensif?? Komprehensif mempunyai makna menyeluruh. Jadi, ujian komprehensif adalah sebuah ujian yang mana hal-hal yang diujikan adalah keseluruhan materi yang telah dipelajari selama 3,5 tahun menimba ilmu. Untuk fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan jurusan Pendidikan Agama Islam, yang menjadi bahan ujian adalah tentang Keislaman, Pendidikan dan Pembelajaran, Keilmuan PAI pada SMP/SMA dan sederajat, serta ilmu Penelitian. Dengar-dengar ujian ini sudah dihapuskan, eh ternyata masih nongol juga di kampus kami. Hukum mengikutinya adalah wajib karena ini adalah pra-syarat sidang skripsi. Ya sudah lah mau gimana lagi, meskipun dengan detak jantung tak karuan, kita harus kuat dan semangat menghadapinya, teman!


Gelombang pertama ujian ini jatuh pada tanggal 15-17 Maret 2016. Sebagian besar mahasiswa memilih pada gelombang ini, termasuk teman-temanku. Wajar saja jika umpan BBM dan beranda Facebook ku dipenuhi dengan status-status tentang ujian komprehensif, entah itu isinya tentang memotivasi dirinya dan teman lainnya untuk semangat belajar, doa-doa agar diberi kelancaran, rasa syukur karena momok ujian kompre sudah tinggal sejarah, maupun keluh kesah mereka karena meninggalkan jejak sejarah kompre yang menyebalkan. Oh ya, ada salah satu akun yang bilang, “perjuangan 3,5 tahun hanya ditentukan pada 30 menit ujian komprehensif” benarkah demikian?? Eh, mulai nglupain skripsinya vrooohhh???? :3

Tidak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun demikian. Selesai ujian, sebagian teman-teman juga saling berbagi kisah kompre mereka. Sepertinya ada kebahagiaan tersendiri setelah mereka menceritakan pada teman-temannya. Untuk yang tidak bercerita, mungkin mereka menganggap kalau kisah mereka tidak perlu diumbar ke publik. Gak usah dipaksa-paksa lah. Itu HAM! :D



Suasana Ujian Komprehensif
Dari cerita teman-teman dan pengalaman sendiri, aku akan menyampaikan beberapa hal. Pertama, penguasaan materi memang menentukan hasil akhir ujian kompre, lulus atau mengulang. Namun, tak bisa dipungkiri, siapa dan bagaimana dosennya juga sangat mempengaruhi, bahkan menurutku lebih mempengaruhi dari pada yang pertama. Bagaimana tidak? Ketika mungkin kita menganggap sudah belajar sungguh-sungguh dan cukup menguasai kisi-kisi yang ada, namun mendapat dosen penguji yang pertanyaannya jauh dari itu semua, apa yang akan dilakukan? Mungkin menjawab ngawur ataupun berkata “PAS” adalah solusinya. Belum lagi, kalau dosen tersebut cukup pelit untuk masalah nilai, pasti bayangan “Mengulang” selalu mengikuti. Beda dengan ketika mendapat dosen yang katakanlah lumayan “woles”, pertanyaan yang dilontarkan begitu mudah serta sebagian besar soal bisa ditaklukkan, pasti keluar ruangan rasanya plooonnggg banget. 

Banyak yang menyebut keadaan yang demikian itu dengan sebutan “bejo-bejan”, “nasib-nasiban”, dan “untung-untungan” atau bisa jadi “kebetulan”, kebetulan dapat dosen killer jadinya mengulang, kebetulan dapat dosen mudah alhamdulillah lulus. Aku setuju saja dengan masalah “kebetulan” tersebut, namun tiba-tiba jadi teringat quote di akun FB bang Tere Liye yang berbunyi kurang lebih seperti ini, “Tidak ada kebetulan di muka bumi ini, yang ada semua telah menjadi skenario dari Tuhan”. Aku gak jadi setuju kalo begono, hehehehe. Ya, karena semuanya memang sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur.

Mungkin akan ada pernyataan, “Gak usah lah belajar rajin, kalo pas mujur pasti lulus kan?” atau macam ini, “Buat apa belajar, kalo gak ada materi (yang kita pelajari) yang keluar?”. Uuuupppsss, yang demikian itu pemikiran yang salah kaprah teman. Dalam akun instagram, seorang cowok keren berujar, “Tujuan Tuhan menciptakan kita bukan untuk GAGAL atau SUKSES, melainkan untuk BERUSAHA”. Ingat terus kalimat ini ya,,,, hehehehe. Masalah lulus ataupun mengulang seharusnya kita serahkan pada Allah, yang penting tetap berusaha dan berdoa.

Kedua, masih tentang dosen penguji namun beda ceritanya. Ada yang cerita ke aku bahwasanya dari sekian banyak soal, dia dan teman-temannya hanya BISA MENJAWAB SATU SOAL. Namun selesai ujian, dosen langsung mengumumkan bahwa mereka mendapatkan nilai B. Senang bukan??? Padahal, selain mereka, juga ada mahasiswa yang mendapatkan nilai B karena TIDAK BISA MENJAWAB SATU DUA SOAL saja. Apakah ini adil?? 

Pasti banyak yang menyatakan itu tidak adil, kan? Namun mau bagaimana lagi? Kita kembalikan saja ke poin pertama, dosen adalah salah satu penentu kelulusan. Setiap dosen memiliki ketentuan penilaian yang berbeda. Jadi, bisa dikatakan nilai yang diperoleh hanyalah ke-relatif-an. Jika seseorang memperoleh nilai yang lebih baik dari teman yang dosen pengujinya berbeda, bukan berarti dia lebih pandai dari temannya tersebut, begitu juga sebaliknya. Karenanya, tidak usahlah menjadikan nilai tersebut sebagai ukuran dari kepandaian. 

Ketiga, dan mungkin ini yang terakhir, selayaknya kita menjadikan ujian komprehensif ini sebagai sarana untuk muhasabah. Di atas telah disinggung bahwasanya nilai dari dosen tidak tepat kalau dijadikan ukuran pengetahuan kita selama 3,5 tahun menempuh ilmu. Karena yang tahu hal tersebut adalah diri kita masing-masing. Ketika soal-soal yang keluar adalah soal yang tidak kita ketahui jawabannya, padahal kita sadar bahwasanya seharusnya kita mengetahuinya, maka kita harus belajar lagi agar pengetahuan kita bertambah sekaligus bermanfaat.

Sebagai contoh adalah mahasiswa jurusan PAI, ketika disuruh membaca al-Quran masih grotal gratul alias belum lancar, ditanya ilmu tajwid masih kebingungan, ditanya doa-doa keseharian belum bisa, doa sholat dhuha belum bisa, belum hafal surat-surat pendek, menyebut nama surat pendek masih salah, bacaan sholat belum lancar, tidak tahu atau lupa tempat wuquf (yang satu ini adalah pengalaman pribadi hehehe), dan masih banyak lagi. Kuliah di Institut Agama Islam yang kesehariannya mempelajari ilmu keislaman, tidak sewajarnya jika hal-hal tersebut belum dikuasai.

Kita lah yang mengetahui kemampuan diri kita, gak usah terpacu pada nilai yang diberi dosen. Mari bermuhasabah! Mari pelajari hal-hal apa saja yang kita rasa belum kita kuasai, menghafal doa apa saja yang belum dihafal. Sehingga ke depannya kita bisa lebih baik lagi baik ilmu dan amalan kita sehari-hari. Amiiiinnn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Design by W-Blog