Kamis, 12 Oktober 2017

Review Novel Lintang Langit pada Senja - Ririn Astutiningrum



 Lintang, aku adalah Langit. Langit yang senantiasa menaungimu, mendekapmu, memayungimu hingga pagi tiba. Andaipun mentari memaksamu pergi, bukankah ada Senja yang selamanya mempertemukan kita?

Itu bukan gombal, melainkan fakta. Sunnatullah, bahwasanya kehadiran senja merupakan pertanda akan bertemunya langit dengan lintang yang selalu menerangi dan menghiasinya saat malam tiba. Dan mbak Ririn berhasil memanfaatkan kejadian alam itu untuk alur dan kisah dalam novel bercover merah itu.

Novel Lintang Langit pada Senja

Senja, adalah seorang mahasiswa keperawatan yang juga aktif dengan kegiatan pondok pesantren Queen Al-Falah Kediri. Dia adalah muslimah tangguh, setiap kejadian yang menghampiri hidupnya selalu dia terima dengan sabar dan ikhlas. Dengan iman yang selalu bersemayam di hatinya, dia percaya bahwa skenario Allah adalah skenario yang baik untuk hidupnya.
 
Berbeda dengan Senja, Langit dan Lintang adalah dua mahasiswa yang batinnya terluka itu lebih memilih cara setan untuk memuaskan nafsunya. Merokok, minuman keras, dan berpesta di club malam adalah cara mereka melupakan masalah. Sebuah cara melupakan yang tidak membuat pelakunya benar-benar lupa. Perih batinnya mungkin terobati dengan cara itu, namun itu hanyalah sebentar saja. Jika obat bius tersebut habis, pasti sakit yang menghampiri akan lebih parah.

Lintang dan Langit adalah sepasang kekasih laiknya bintang gemintang di langit, saling melengkapi. Dua insan yang bisa menyatu karena sama-sama mempunyai luka batin. Sayang, suatu saat mereka harus berpisah karena dipaksa oleh keadaan keluarga Langit. Sejauh apapun mereka berpisah, mereka pun akhirnya bertemu kembali karena Senja. Ya, Senja lah yang mempertemukan Langit pada Lintang yang selalu menghiasi hatinya. Bahkan, Senja juga lah yang membantu mereka menemukan cahaya hidayah sang Illahi.

Mereka, yang awalnya jauh dari ilmu agama menjadi dua orang pendakwah dengan caranya sendiri-sendiri.
Senja, mengingatkanku pada Fara. Tokoh ciptaanku dalam cerpen Taaruf Cinta yang menuntun Hamzah untuk menjadi manusia yang lebih baik menurut agamanya untuk kemudian bisa ditularkan kepada orang lain. Namun, Sarah tetaplah Sarah. Kisah hidupnya masih sangat jauh bagusnya dibandingkan kisah Senjanya mbak Ririn, penulis produktif yang telah banyak melahirkan karya-karya hebat nan islami.

Baca juga : Cerpen Taaruf Cinta

Kisah mereka bertiga mengajarkan apa artinya hidup ini dan bagaimana cara menghadapi setiap masalah yang menghampiri. “Harga kehidupan kita bergantung dari kemampuan kita menerima kehidupan itu sendiri. Semakin kita bisa ikhlas dan lapang, semakin berhargalah hidup yang kita miliki” begitulah penulis memotivasi pembaca agar tidak selalu rapuh dalam menghadapi dan menjalani hidup yang kadang tidak mudah. Bukankah Allah tidak menguji hamba-Nya di luar kesanggupannya?

Baca juga : Ridha
Begitulah hidup. Gobind menyatakan bahwa tangan manusia menggenggam ketika lahir dan tidak ada tangan yang mencengkeram ketika mati. Karena memang hidup adalah perjalanan untuk melepas, bukan mendapatkan. Lalu bagaimana seharusnya kita menghadapi hidup yang hakikatnya melepaskan itu? Menjadi pelepas yang selalu ridha lah jawabannya. Selalu menerima apa yang telah ditetapkan Allah kepada kita dengan syukur dan sabar. Mungkin kadang kita akan mengeluh jika hidup tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun buat apa kita mengeluh? Toh, keluhan kita tidak akan mengubah keadaan, yang ada malah membuat diri semakin rapuh dan rapuh. Tidakkah kita ingat bahwa skenario Allah adalah skenario yang paling indah? Percayalah, tidak akan rugi bagi orang-orang yang selalu bersabar dan berjalan sesuai dengan jalan-Nya.

Judul : Lintang Langit pada Senja
Penulis : Ririn Astutiningrum
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Cetakan pertama, 2017


2 komentar:

Like Me :)

Review Novel Lintang Langit pada Senja - Ririn Astutiningrum



 Lintang, aku adalah Langit. Langit yang senantiasa menaungimu, mendekapmu, memayungimu hingga pagi tiba. Andaipun mentari memaksamu pergi, bukankah ada Senja yang selamanya mempertemukan kita?

Itu bukan gombal, melainkan fakta. Sunnatullah, bahwasanya kehadiran senja merupakan pertanda akan bertemunya langit dengan lintang yang selalu menerangi dan menghiasinya saat malam tiba. Dan mbak Ririn berhasil memanfaatkan kejadian alam itu untuk alur dan kisah dalam novel bercover merah itu.

Novel Lintang Langit pada Senja

Senja, adalah seorang mahasiswa keperawatan yang juga aktif dengan kegiatan pondok pesantren Queen Al-Falah Kediri. Dia adalah muslimah tangguh, setiap kejadian yang menghampiri hidupnya selalu dia terima dengan sabar dan ikhlas. Dengan iman yang selalu bersemayam di hatinya, dia percaya bahwa skenario Allah adalah skenario yang baik untuk hidupnya.
 
Berbeda dengan Senja, Langit dan Lintang adalah dua mahasiswa yang batinnya terluka itu lebih memilih cara setan untuk memuaskan nafsunya. Merokok, minuman keras, dan berpesta di club malam adalah cara mereka melupakan masalah. Sebuah cara melupakan yang tidak membuat pelakunya benar-benar lupa. Perih batinnya mungkin terobati dengan cara itu, namun itu hanyalah sebentar saja. Jika obat bius tersebut habis, pasti sakit yang menghampiri akan lebih parah.

Lintang dan Langit adalah sepasang kekasih laiknya bintang gemintang di langit, saling melengkapi. Dua insan yang bisa menyatu karena sama-sama mempunyai luka batin. Sayang, suatu saat mereka harus berpisah karena dipaksa oleh keadaan keluarga Langit. Sejauh apapun mereka berpisah, mereka pun akhirnya bertemu kembali karena Senja. Ya, Senja lah yang mempertemukan Langit pada Lintang yang selalu menghiasi hatinya. Bahkan, Senja juga lah yang membantu mereka menemukan cahaya hidayah sang Illahi.

Mereka, yang awalnya jauh dari ilmu agama menjadi dua orang pendakwah dengan caranya sendiri-sendiri.
Senja, mengingatkanku pada Fara. Tokoh ciptaanku dalam cerpen Taaruf Cinta yang menuntun Hamzah untuk menjadi manusia yang lebih baik menurut agamanya untuk kemudian bisa ditularkan kepada orang lain. Namun, Sarah tetaplah Sarah. Kisah hidupnya masih sangat jauh bagusnya dibandingkan kisah Senjanya mbak Ririn, penulis produktif yang telah banyak melahirkan karya-karya hebat nan islami.

Baca juga : Cerpen Taaruf Cinta

Kisah mereka bertiga mengajarkan apa artinya hidup ini dan bagaimana cara menghadapi setiap masalah yang menghampiri. “Harga kehidupan kita bergantung dari kemampuan kita menerima kehidupan itu sendiri. Semakin kita bisa ikhlas dan lapang, semakin berhargalah hidup yang kita miliki” begitulah penulis memotivasi pembaca agar tidak selalu rapuh dalam menghadapi dan menjalani hidup yang kadang tidak mudah. Bukankah Allah tidak menguji hamba-Nya di luar kesanggupannya?

Baca juga : Ridha
Begitulah hidup. Gobind menyatakan bahwa tangan manusia menggenggam ketika lahir dan tidak ada tangan yang mencengkeram ketika mati. Karena memang hidup adalah perjalanan untuk melepas, bukan mendapatkan. Lalu bagaimana seharusnya kita menghadapi hidup yang hakikatnya melepaskan itu? Menjadi pelepas yang selalu ridha lah jawabannya. Selalu menerima apa yang telah ditetapkan Allah kepada kita dengan syukur dan sabar. Mungkin kadang kita akan mengeluh jika hidup tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun buat apa kita mengeluh? Toh, keluhan kita tidak akan mengubah keadaan, yang ada malah membuat diri semakin rapuh dan rapuh. Tidakkah kita ingat bahwa skenario Allah adalah skenario yang paling indah? Percayalah, tidak akan rugi bagi orang-orang yang selalu bersabar dan berjalan sesuai dengan jalan-Nya.

Judul : Lintang Langit pada Senja
Penulis : Ririn Astutiningrum
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Cetakan pertama, 2017


2 komentar:

Blog Design by W-Blog