Kamis, 05 Oktober 2017

Ridha



Ridha, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah rela, suka, senang hati, dan menerima. 

Tulisan diambil dari sebuah diskusi kecil yang sedang membahas tentang tujuan pendidikan. Dalam Islam, salah satu tujuan dari pendidikan adalah untuk mencari ridha Allah. Nah, lalu bagaimana ya kita menata hati agar ketika kita mencari ilmu di lembaga pendidikan itu benar-benar mencari ridha Allah?

Ada tanggapan menarik mengenai hal tersebut, “Janganlah sibuk mencari ridha Allah, tapi sibuklah untuk berusaha meridhai apa yang telah ditetapkan Allah kepada kita”.[1] Ini berarti bahwa manusia haruslah berusaha ikhlas, berusaha menerima apa yang telah digariskan Allah terhadapnya – dan ini tidaklah mudah.


Manusia, telah disebutkan dalam ayat AlQuran bahwa dia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Berkeluh kesah saat ditimpakan musibah, dan bersifat kikir jika diberikan kebaikan. Kendati demikian, tentu ada manusia yang bisa mengalahkan sifat tersebut dalam dirinya. Ayat selanjutnya menyatakan bahwa ada manusia pengecualian (tidak seperti yang disebutkan sebelumnya), yaitu mereka yang tetap mengerjakan shalat, mereka yang menyisihkan hartanya, mereka yang mempercayai hari pembalasan, mereka yang takut terhadap azab Tuhannya, mereka yang memelihara kemaluan kecuali terhadap istri-istrinya, mereka yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya, mereka yang memberikan kesaksian, serta mereka yang memelihara shalatnya (QS al-Ma’aarij ayat 19-34).

Nah, bagaimana? Sulit dan berat, bukan? Ya iyalah, ganjarannya surga broooo!! :D

Selanjutnya, berhubung forum kami adalah forum orang PAI (Pendidikan Agama Islam) yang membahas tafsir ayat dan hadits tarbawi, pastinya akan keluar beberapa dalil untuk menjelaskan sesuatunya. Tetap masalah ridha, ada beberapa dalil yang bisa kita perhatikan terkait dengan mendapatkan ridha dari Allah.

Pertama, adalah yang telah disebutkan di atas. Untuk mendapatkan ridha Allah, seseorang harus ridha terhadap ketentuan-Nya. Hal ini terdapat dalam QS al-Fajr ayat 28 “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya”, serta QS al-Bayyinah ayat 8 “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya”.

Kedua, hendaklah segala aktivitas yang kita lakukan ditujukan untuk Allah semata (QS al-Lail ayat 20), “tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi”.
Ketiga, adalah sebuah hadits yang menyatakan bahwa ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.[2]

Diskusi pada Selasa, 3 Oktober 2017 di lokal 5 gedung pascasarjana IAIN TA.



[1] Pemaparan dari Ivan Kanzul Fikri.
[2] Penjelasan dari Rizki Romi Faizal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Me :)

Ridha



Ridha, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah rela, suka, senang hati, dan menerima. 

Tulisan diambil dari sebuah diskusi kecil yang sedang membahas tentang tujuan pendidikan. Dalam Islam, salah satu tujuan dari pendidikan adalah untuk mencari ridha Allah. Nah, lalu bagaimana ya kita menata hati agar ketika kita mencari ilmu di lembaga pendidikan itu benar-benar mencari ridha Allah?

Ada tanggapan menarik mengenai hal tersebut, “Janganlah sibuk mencari ridha Allah, tapi sibuklah untuk berusaha meridhai apa yang telah ditetapkan Allah kepada kita”.[1] Ini berarti bahwa manusia haruslah berusaha ikhlas, berusaha menerima apa yang telah digariskan Allah terhadapnya – dan ini tidaklah mudah.


Manusia, telah disebutkan dalam ayat AlQuran bahwa dia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Berkeluh kesah saat ditimpakan musibah, dan bersifat kikir jika diberikan kebaikan. Kendati demikian, tentu ada manusia yang bisa mengalahkan sifat tersebut dalam dirinya. Ayat selanjutnya menyatakan bahwa ada manusia pengecualian (tidak seperti yang disebutkan sebelumnya), yaitu mereka yang tetap mengerjakan shalat, mereka yang menyisihkan hartanya, mereka yang mempercayai hari pembalasan, mereka yang takut terhadap azab Tuhannya, mereka yang memelihara kemaluan kecuali terhadap istri-istrinya, mereka yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnya, mereka yang memberikan kesaksian, serta mereka yang memelihara shalatnya (QS al-Ma’aarij ayat 19-34).

Nah, bagaimana? Sulit dan berat, bukan? Ya iyalah, ganjarannya surga broooo!! :D

Selanjutnya, berhubung forum kami adalah forum orang PAI (Pendidikan Agama Islam) yang membahas tafsir ayat dan hadits tarbawi, pastinya akan keluar beberapa dalil untuk menjelaskan sesuatunya. Tetap masalah ridha, ada beberapa dalil yang bisa kita perhatikan terkait dengan mendapatkan ridha dari Allah.

Pertama, adalah yang telah disebutkan di atas. Untuk mendapatkan ridha Allah, seseorang harus ridha terhadap ketentuan-Nya. Hal ini terdapat dalam QS al-Fajr ayat 28 “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya”, serta QS al-Bayyinah ayat 8 “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya”.

Kedua, hendaklah segala aktivitas yang kita lakukan ditujukan untuk Allah semata (QS al-Lail ayat 20), “tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi”.
Ketiga, adalah sebuah hadits yang menyatakan bahwa ridha Allah tergantung ridha orang tua dan murka Allah tergantung murka orang tua.[2]

Diskusi pada Selasa, 3 Oktober 2017 di lokal 5 gedung pascasarjana IAIN TA.



[1] Pemaparan dari Ivan Kanzul Fikri.
[2] Penjelasan dari Rizki Romi Faizal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Design by W-Blog