Kamis, 04 Juni 2015

Kriteria Pemilihan Pendekatan Supervisi Pendidikan


A.    Pendekatan Supervisi Pendidikan
Pendekatan berasal dari kata approad adalah cara mendekatkan diri kepada objek atau langkah-langkah menuju objek. Atau pola perilaku yang tepat untuk mempengaruhi orang lain. Menurut Piet A. Suhertian bahwa suatu pendekatan pemberian supervisi sangat tergantung kepada prototipe guru. Dengan demikian, dalam pemilihan pendekatan supervisi pendidikan hendaknya berdasarkan prototipe tersebut. Guru yang profesional tentunya akan beda pendekatan yang digunakan dengan guru yang tidak bermutu.[1]
Adapun macam-macam pendekatan supervisi pendidikan, antara lain:
1.      Pola Pendekatan Supervisi Direktif
Pada pola ini, guru yang disupervisi tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan kreatifitas mereka. Pada pola ini supervisor mengambil sepenuhnya tanggung jawab supervisi.[2]


2.      Pola Pendekatan Supervisi Nondirektif
Pendekatan ini berangkat dari premis bahwa belajar pada dasarnya adalah pengalaman pribadi, sehingga pada akhirnya individu harus mampu memecahkan masalahnya sendiri. Peranan supervisor disini adalah mendengarkan, mendorong, atau membangkitkan kesadaran sendiri dan pengalaman-pengalaman guru diklasifikasikan.[3]
Oleh karena itu, pendekatan ini bercirikan perilaku supervisor dimana supervisor mendengarkan guru, mendorong guru, mengajukan pertanyaan, menawarkan pikiran bila diminta dan membimbing guru untuk melakukan tindakan. Tanggung jawab supervisi lebih banyak berada di pihak guru.[4]  


3
3.      Pola Pendekatan Supervisi Kolaboratif
Pola pendekatan kolaboratif ini adalah perpaduan antar pendekatan supervisi direktif dan nondirektif. Jika diperhatikan dari segi tanggung jawab, supervisor dan guru berbagi tanggung jawab.[5]

B.     Menentukan Kriteria Pendekatan Supervisi
1.      Level Komitmen
Fuller dan lainnya menemukan bahwa perkembangan guru paralel dengan perkembangan kedewasaan. Kebutuhan pertama usia dewasa adalah perhatian terhadap kebutuhannya sendiri sebelum beralih pada perhatian anggota kelompok terdekat (siswa).
Para pendidik mengindikasikan bahwa beberapa guru memiliki komitmen yang kuat dalam mengajar, dan beberapa yang lain memiliki sedikit bahkan tidak memiliki komitmen. Komitmen lebih luas dari sekedar perhatian, sebab mencakup waktu dan usaha. Guru yang tidak memiliki komitmen adalah seorang yang hanya memperhatikan dirinya sendiri, dan tidak punya keinginan untuk berkembang serta tidak mau mengorbankan waktu dan tenaganya untuk perkembangan.[6]
Guru dapat dilihat mengikuti kontinum komitmen mulai dari yang rendah menuju yang tinggi.

Low
 
High
 
Kontinum Komitmen



 

·  Sedikit memperhatikan siswa
·  Sedikit waktu / tenaga
·  Terutama ingin mempertahankan pekerjaan
 
·  Sangat memperhatikan siswa dan guru lain
·  Punya banyak waktu / tenaga
·  Lebih memperhatikan apa yang bisa lebih dilakukan untuk pihak lain
 
                                                    





Gambar 1. Level Komitmen

Seseorang dapat dengan mudah mengidentifikasi guru di sekolah atau organisasi berdasarkan kontinum ini. Beberapa guru mungkin berada pada level paling rendah, sebagian pada level paling tinggi, dan beberapa yang lain berada di antara kedua level. Misalnya, guru yang memiliki komitmen sedang, akan bekerja dengan sambil lalu, atau bekerja dengan baik bersama kelompok siswa tertentu dan menggunakan sedikit waktu dengan yang lain. Sebagian besar guru pada level pertengahan ini.
Jika level komitmen adalah satu-satunya variabel untuk membuktikan faktor keberhasilan pengembangan pembelajaran, maka kita harus mulai untuk mencocokkan pendekatan supervisi berdasarkan hal tersebut. Namun demikian, variabel penting yang lain harus dijadikan perhatian ketika bekerja sama guru. Variabel tersebut adalah kemampuan guru untuk berfikir abstrak.[7]

2.      Level Abstraksi
Kemampuan guru untuk mengklarifikasi permasalahan pembelajarannya (manajemen, disiplin, menjaga catatan, organisasi, dan sikap siswa), untuk menentukan alternatif solusi problem tersebut, dan selanjutnya merencanakan tindakan, merupakan proses berfikir abstrak. Hal tersebut memberikan alasan bahwa guru yang memiliki ketrampilan untuk memecahkan persoalan dan dapat memikirkan konsekuensi dari alternatif tindakannya, akan lebih efektif dalam melaksanakan pengajaran sesuai dengan keinginan siswa. Guru yang tidak memiliki kemampuan abstraksi seperti itu akan sangat terbatas dalam memilih tindakan yang sesuai. Kemampuan berfikir yang rendah terhadap persoalan seringkali menghasilkan pengulangan satu atau dua kali kebiasaan merespon permasalahan secara berkelanjutan, atau membuat perencanaan yang tidak sempurna.[8]
Salah satu pemicu atau stimulus untuk membantu seseorang berkembang menuju level abstraksi yang tinggi adalah adanya interaksi dengan orang yang abstraksinya lebih tinggi. Orang yang lebih tinggi tingkat abstraksinya akan dapat menciptakan kondisi, mengatur materi dan lingkungan, serta dapat mengemukakan pertanyaan dan ide untuk memicu siswa berfikir tentang berbagai isu dalam berbagai perspektif. Sebagai supervisor, maka perlu memperhatikan tingkat berfikir abstrak para guru. Guru yang memiliki tingkat abstraksi tinggi, perlu ditantang untuk menggunakannya dan siap pada profesinya. Sedangkan bagi guru yang tidak memiliki kemampuan, perlu didorong untuk mencapainya. Supervisor seharusnya berfikir mengikuti kontinum berfikir abstrak.[9]

Kontinum Berfikir Abstrak


 








Gambar 2. Level berfikir abstrak

Guru dengan tingkat abstraksi rendah tidak yakin bahwa mereka menghadapi masalah di kelas, namun jika mereka sadar mereka sangat bingung menghadapi masalah tersebut. Mereka tidak mengerti apa yang harus dilakukan, dan mereka membutuhkan petunjuk apa yang harus dilakukan. Normalnya mereka hanya memiliki alternatif solusi yang sangat terbatas seperti murid harus dipaksa atau diberi PR lebih banyak tanpa memperhatikan apakah permasalahannya adalah penyimpangan perilaku, prestasi yang rendah, atau ketidaksesuaian buku ajar.[10]
Guru dengan tingkat abstraksi sedang biasanya dapat mendefinisikan problem berdasarkan pada apa yang mereka lihat. Mereka dapat menentukan satu atau dua alternatif solusi, namun kesulitan merumuskan solusi tersebut dalam perencanaan yang komprehensif. Misalnya, jika banyak siswa yang tidak lulus dalam pelajaran kimia, guru dengan abstraksi rendah cenderung menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan paket remedial yang ditulis dalam bacaan sederhana. Mereka kemudian melaksanakan paket tersebut namun tidak mampu merencanakan tindakan selanjutnya seperti monitoring kemajuan, mengalokasikan waktu yang cukup, menyediakan tugas lain bagi siswa yang lebih pandai, menjelaskan aturan pelaksana remedial, dan penjelasan perlunya lebih banyak tugas individual. Guru dengan abstraksi sedang biasanya menghadapi permasalahan baru, karena tidak memiliki rencana antisipatif.[11]
Guru dengan tingkat berfikir abstrak tinggi dapat melihat permasalahan dalam berbagai perspektif (perspektif mereka sendiri, perspektif siswa, perspektif orang tua, dan perspektif administrator) dan dapat menemukan berbagai alternatif pemecahan. Mereka dapat memikirkan keuntungan dan kerugian dari masing-masing rencana dan memutuskan berdasarkan pemikiran tersebut. Mereka segera merubah rencana jika konsekuensi yang diharapkan tidak terwujud. Dalam membuat perencanaan, mereka dapat menetapkan problem-problem lain yang muncul dan menyiapkan rencana antisipatif.

C.    Mempertemukan Beberapa Variabel Untuk Menetapkan Kriteria
Dengan menggunakan dua variabel (level komitmen dan level abstraksi) supervisor dapat melakukan analisis terhadap individu guru. Analisis dapat disempurnakan dengan mempertemukan dua garis kontinum, yakni kontinum komitmen dari rendah ke tinggi, dan kontinum abstraksi dari rendah ke tinggi. Jadi sebagaimana tampak dalam gambar 3, terdapat empat kuadran yang menunjukkan tipe-tipe guru. Tentu saja tidak semua guru dapat dimasukkan dalam empat kuadran, namun kuadran tersebut dapat digunakan supervisor untuk melihat perbedaan karakteristik guru.[12]









 

L
E
V
E
L
 
Kuadran IV
Profesional
 
 










Kuadran III
Penilai Analitis
 




Rendah
 



Tinggi
 


 



Kuadran II
Pekerja Tak Fokus
 
Kuadran I
Guru Dropout
 
Rendah
 
A
B
S
T
R
A
K
S
I

 
Level Komitmen






                                                                                                         





Gambar 3. Kategori tipe guru

Kuadran I : adalah guru yang level komitmennya rendah dan level abstraksinya juga rendah. Dia dikategorikan sebagai guru-droupout. Dia bekerja hanya sekedar untuk melaksanakan kewajiban saja. Dia juga kurang memiliki motivasi untuk mengembangkan kompetensinya. Lebih jauh lagi, dia tidak dapat berfikir perubahan apa yang harus dilakukan dan sudah puas dengan pekerjaan rutin sehari-hari. Dia selalu menyalahkan orang lain. Dalam pandangan guru seperti ini, yang membutuhkan bantuan adalah siswa dan administrator, sedangkan guru tidak pernah butuh bantuan. Dia mulai kerja tepat waktu dan pulang secepat mungkin.[13]
Kuadran II : Guru yang tingkat komitmennya tinggi namun tingkat abstraksinya rendah. Dia adalah guru yang antusias, energik, dan selalu penuh perhatian. Dia selalu berusaha untuk menjadi guru yang lebih baik, dan ingin membuat kelasnya lebih menarik dan relevan dengan siswa. Dia bekerja dengan keras dan biasanya membawa pekerjaan ke rumah. Sayangnya, perhatiannya yang baik tidak didukung oleh kemampuannya untuk menyelesaikan persoalan dengan realistis. Guru seperti ini dikategorikan sebagai guru yang tidak fokus. Dia selalu terlibat dalam banyak proyek dan aktivitas, tapi dia mudah merasa bingung, berkecil hati, dan menjeburkan diri dalam tugas yang menumpuk. Hasilnya, guru seperti ini jarang dapat menyelesaikan tugasnya sebelum menerima tugas yang baru.[14]
Kuadran III : adalah guru yang tingkat komitmennya rendah namun tingkat abstraksinya tinggi. Dia adalah guru yang cerdas, penuh dengan ide-ide cemerlang tentang apa yang harus dilakukan di kelas, di luar kelas maupun di dalam sekolah. Dia dapat mendiskusikan isu yang muncul secara gamblang dan dapat berfikir dengan membuat tahapan-tahapan penting untuk dilaksanakan dengan baik. Guru seperti ini dikategorikan sebagai pengamat analitis, karena ide-idenya seringkali tidak terlaksana. Dia tahu apa yang harus dilakukan, namun dia tidak mau mengorbankan waktu dan tenaganya serta tidak peduli pada apa yang telah direncanakan.[15]
Kuadran IV : adalah guru yang tingkat komitmen dan abstraksinya sama-sama tinggi. Dia benar-benar guru yang profesional, komit terhadap pengembagan diri secara terus menerus, pengembangan siswa, dan sesama guru. Dia mampu memikirkan tugasnya, mempertimbangkan alternatif yang ada, mampu menentukan pilihan dengan rasional, dan mengembangkan serta melaksanakan perencanaan yang matang. Dia dianggap sebagai pimpinan informal, dan orang lain ingin minta bantuannya. Tidak hanya karena memiliki banyak ide, aktivitas, dan sumber daya, namun orang seperti ini selalu terlibat aktif dalam merancang perencanaan dengan sempurna. Dia adalah pemikir sekaligus pelaksana.
Dengan memfokuskan pada dua variabel tersebut, supervisor dapat memulai untuk berfikir bahwa individu guru memiliki perbedaan perkembangan. Guru dapat diarahkan dengan berbagai cara untuk membantu mereka mengembangkan tingkat komitmen dan abstraksi ke arah yang lebih tinggi. Pertama kali supervisor harus bekerja bersama mereka sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Mengingat bahwa secara implisit karakteristik perilaku supervisi mengikuti kontinum, maka tujuan supervisi adalah selalu meningkatkan perilaku tersebut. Hal tersebut dilakukan sebagai kontrol supervisor dalam memperbaiki sistem pengajaran dan sebagai pedoman bagi guru mengembangkan perilaku guru dan mengontrol dirinya sendiri. Hal ini tidak berlangsung selamanya. Pada beberapa guru yang mau terbuka, tidak akan terjadi masalah. Pada beberapa guru yang lain mungkin membutuhkan waktu satu sampai tiga tahun. Dan pada sebagian yang lain mungkin sudah siap untuk mengontrol dirinya sendiri (self-direction). [16]


 





Gambar 4. Kontinum perilaku supervisi pengembangan

Skema di atas, dapat dijadikan sebagai titik awal bagi supervisor bersama dengan guru untuk menentukan pendekatan supervisi yang cocok. Guru dropout lebih cocok menggunakan pendekatan direktif, pengamat analitis lebih cocok dengan pendekatan kolaboratif dengan menekankan pada negoisasi, guru yang tidak fokus lebih tepat menngunakan kolaboratif dengan menekankan pada presentasi ide dari supervisor, sedangkan profesional lebih cocok dengan pendekatan supervisi nondirektif.


[1] http://pengertian-pendidikan.com diakses pada Minggu 1 Juni 2014 pukul 10.43 WIB.
[2] W. Mantja, Profesionalisme Tenaga Kependidikan: Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran, Kumpulan Karya Tulis Terpublikasi, (Malang: Elang Mas, 2007), hlm. 113.
[3] Binti Maunah, Supervisi Pendidikan Islam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Teras, 2009), 139.
[4] Sri Benun Muslim, Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru,(Bandung: Alfabeta, 2009), 80
[5] Ibid, hlm. 116.
[6] Luk-luk Nur Mufidah, Supervisi . . . , hlm. 73.
[7] Ibid, hlm. 74.
[8] Ibid, hlm. 75.
[9] Ibid, hlm. 76.
[10] Ibid, hlm. 77.
[11] Ibid, hlm. 78.
[12] Ibid, hlm. 79.
[13] Ibid, hlm. 79.
[14] Ibid, hlm. 80.
[15] Ibid, hlm. 81.
[16] Ibid, hlm. 82.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Like Me :)

Kriteria Pemilihan Pendekatan Supervisi Pendidikan


A.    Pendekatan Supervisi Pendidikan
Pendekatan berasal dari kata approad adalah cara mendekatkan diri kepada objek atau langkah-langkah menuju objek. Atau pola perilaku yang tepat untuk mempengaruhi orang lain. Menurut Piet A. Suhertian bahwa suatu pendekatan pemberian supervisi sangat tergantung kepada prototipe guru. Dengan demikian, dalam pemilihan pendekatan supervisi pendidikan hendaknya berdasarkan prototipe tersebut. Guru yang profesional tentunya akan beda pendekatan yang digunakan dengan guru yang tidak bermutu.[1]
Adapun macam-macam pendekatan supervisi pendidikan, antara lain:
1.      Pola Pendekatan Supervisi Direktif
Pada pola ini, guru yang disupervisi tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan kreatifitas mereka. Pada pola ini supervisor mengambil sepenuhnya tanggung jawab supervisi.[2]


2.      Pola Pendekatan Supervisi Nondirektif
Pendekatan ini berangkat dari premis bahwa belajar pada dasarnya adalah pengalaman pribadi, sehingga pada akhirnya individu harus mampu memecahkan masalahnya sendiri. Peranan supervisor disini adalah mendengarkan, mendorong, atau membangkitkan kesadaran sendiri dan pengalaman-pengalaman guru diklasifikasikan.[3]
Oleh karena itu, pendekatan ini bercirikan perilaku supervisor dimana supervisor mendengarkan guru, mendorong guru, mengajukan pertanyaan, menawarkan pikiran bila diminta dan membimbing guru untuk melakukan tindakan. Tanggung jawab supervisi lebih banyak berada di pihak guru.[4]  


3
3.      Pola Pendekatan Supervisi Kolaboratif
Pola pendekatan kolaboratif ini adalah perpaduan antar pendekatan supervisi direktif dan nondirektif. Jika diperhatikan dari segi tanggung jawab, supervisor dan guru berbagi tanggung jawab.[5]

B.     Menentukan Kriteria Pendekatan Supervisi
1.      Level Komitmen
Fuller dan lainnya menemukan bahwa perkembangan guru paralel dengan perkembangan kedewasaan. Kebutuhan pertama usia dewasa adalah perhatian terhadap kebutuhannya sendiri sebelum beralih pada perhatian anggota kelompok terdekat (siswa).
Para pendidik mengindikasikan bahwa beberapa guru memiliki komitmen yang kuat dalam mengajar, dan beberapa yang lain memiliki sedikit bahkan tidak memiliki komitmen. Komitmen lebih luas dari sekedar perhatian, sebab mencakup waktu dan usaha. Guru yang tidak memiliki komitmen adalah seorang yang hanya memperhatikan dirinya sendiri, dan tidak punya keinginan untuk berkembang serta tidak mau mengorbankan waktu dan tenaganya untuk perkembangan.[6]
Guru dapat dilihat mengikuti kontinum komitmen mulai dari yang rendah menuju yang tinggi.

Low
 
High
 
Kontinum Komitmen



 

·  Sedikit memperhatikan siswa
·  Sedikit waktu / tenaga
·  Terutama ingin mempertahankan pekerjaan
 
·  Sangat memperhatikan siswa dan guru lain
·  Punya banyak waktu / tenaga
·  Lebih memperhatikan apa yang bisa lebih dilakukan untuk pihak lain
 
                                                    





Gambar 1. Level Komitmen

Seseorang dapat dengan mudah mengidentifikasi guru di sekolah atau organisasi berdasarkan kontinum ini. Beberapa guru mungkin berada pada level paling rendah, sebagian pada level paling tinggi, dan beberapa yang lain berada di antara kedua level. Misalnya, guru yang memiliki komitmen sedang, akan bekerja dengan sambil lalu, atau bekerja dengan baik bersama kelompok siswa tertentu dan menggunakan sedikit waktu dengan yang lain. Sebagian besar guru pada level pertengahan ini.
Jika level komitmen adalah satu-satunya variabel untuk membuktikan faktor keberhasilan pengembangan pembelajaran, maka kita harus mulai untuk mencocokkan pendekatan supervisi berdasarkan hal tersebut. Namun demikian, variabel penting yang lain harus dijadikan perhatian ketika bekerja sama guru. Variabel tersebut adalah kemampuan guru untuk berfikir abstrak.[7]

2.      Level Abstraksi
Kemampuan guru untuk mengklarifikasi permasalahan pembelajarannya (manajemen, disiplin, menjaga catatan, organisasi, dan sikap siswa), untuk menentukan alternatif solusi problem tersebut, dan selanjutnya merencanakan tindakan, merupakan proses berfikir abstrak. Hal tersebut memberikan alasan bahwa guru yang memiliki ketrampilan untuk memecahkan persoalan dan dapat memikirkan konsekuensi dari alternatif tindakannya, akan lebih efektif dalam melaksanakan pengajaran sesuai dengan keinginan siswa. Guru yang tidak memiliki kemampuan abstraksi seperti itu akan sangat terbatas dalam memilih tindakan yang sesuai. Kemampuan berfikir yang rendah terhadap persoalan seringkali menghasilkan pengulangan satu atau dua kali kebiasaan merespon permasalahan secara berkelanjutan, atau membuat perencanaan yang tidak sempurna.[8]
Salah satu pemicu atau stimulus untuk membantu seseorang berkembang menuju level abstraksi yang tinggi adalah adanya interaksi dengan orang yang abstraksinya lebih tinggi. Orang yang lebih tinggi tingkat abstraksinya akan dapat menciptakan kondisi, mengatur materi dan lingkungan, serta dapat mengemukakan pertanyaan dan ide untuk memicu siswa berfikir tentang berbagai isu dalam berbagai perspektif. Sebagai supervisor, maka perlu memperhatikan tingkat berfikir abstrak para guru. Guru yang memiliki tingkat abstraksi tinggi, perlu ditantang untuk menggunakannya dan siap pada profesinya. Sedangkan bagi guru yang tidak memiliki kemampuan, perlu didorong untuk mencapainya. Supervisor seharusnya berfikir mengikuti kontinum berfikir abstrak.[9]

Kontinum Berfikir Abstrak


 








Gambar 2. Level berfikir abstrak

Guru dengan tingkat abstraksi rendah tidak yakin bahwa mereka menghadapi masalah di kelas, namun jika mereka sadar mereka sangat bingung menghadapi masalah tersebut. Mereka tidak mengerti apa yang harus dilakukan, dan mereka membutuhkan petunjuk apa yang harus dilakukan. Normalnya mereka hanya memiliki alternatif solusi yang sangat terbatas seperti murid harus dipaksa atau diberi PR lebih banyak tanpa memperhatikan apakah permasalahannya adalah penyimpangan perilaku, prestasi yang rendah, atau ketidaksesuaian buku ajar.[10]
Guru dengan tingkat abstraksi sedang biasanya dapat mendefinisikan problem berdasarkan pada apa yang mereka lihat. Mereka dapat menentukan satu atau dua alternatif solusi, namun kesulitan merumuskan solusi tersebut dalam perencanaan yang komprehensif. Misalnya, jika banyak siswa yang tidak lulus dalam pelajaran kimia, guru dengan abstraksi rendah cenderung menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan paket remedial yang ditulis dalam bacaan sederhana. Mereka kemudian melaksanakan paket tersebut namun tidak mampu merencanakan tindakan selanjutnya seperti monitoring kemajuan, mengalokasikan waktu yang cukup, menyediakan tugas lain bagi siswa yang lebih pandai, menjelaskan aturan pelaksana remedial, dan penjelasan perlunya lebih banyak tugas individual. Guru dengan abstraksi sedang biasanya menghadapi permasalahan baru, karena tidak memiliki rencana antisipatif.[11]
Guru dengan tingkat berfikir abstrak tinggi dapat melihat permasalahan dalam berbagai perspektif (perspektif mereka sendiri, perspektif siswa, perspektif orang tua, dan perspektif administrator) dan dapat menemukan berbagai alternatif pemecahan. Mereka dapat memikirkan keuntungan dan kerugian dari masing-masing rencana dan memutuskan berdasarkan pemikiran tersebut. Mereka segera merubah rencana jika konsekuensi yang diharapkan tidak terwujud. Dalam membuat perencanaan, mereka dapat menetapkan problem-problem lain yang muncul dan menyiapkan rencana antisipatif.

C.    Mempertemukan Beberapa Variabel Untuk Menetapkan Kriteria
Dengan menggunakan dua variabel (level komitmen dan level abstraksi) supervisor dapat melakukan analisis terhadap individu guru. Analisis dapat disempurnakan dengan mempertemukan dua garis kontinum, yakni kontinum komitmen dari rendah ke tinggi, dan kontinum abstraksi dari rendah ke tinggi. Jadi sebagaimana tampak dalam gambar 3, terdapat empat kuadran yang menunjukkan tipe-tipe guru. Tentu saja tidak semua guru dapat dimasukkan dalam empat kuadran, namun kuadran tersebut dapat digunakan supervisor untuk melihat perbedaan karakteristik guru.[12]









 

L
E
V
E
L
 
Kuadran IV
Profesional
 
 










Kuadran III
Penilai Analitis
 




Rendah
 



Tinggi
 


 



Kuadran II
Pekerja Tak Fokus
 
Kuadran I
Guru Dropout
 
Rendah
 
A
B
S
T
R
A
K
S
I

 
Level Komitmen






                                                                                                         





Gambar 3. Kategori tipe guru

Kuadran I : adalah guru yang level komitmennya rendah dan level abstraksinya juga rendah. Dia dikategorikan sebagai guru-droupout. Dia bekerja hanya sekedar untuk melaksanakan kewajiban saja. Dia juga kurang memiliki motivasi untuk mengembangkan kompetensinya. Lebih jauh lagi, dia tidak dapat berfikir perubahan apa yang harus dilakukan dan sudah puas dengan pekerjaan rutin sehari-hari. Dia selalu menyalahkan orang lain. Dalam pandangan guru seperti ini, yang membutuhkan bantuan adalah siswa dan administrator, sedangkan guru tidak pernah butuh bantuan. Dia mulai kerja tepat waktu dan pulang secepat mungkin.[13]
Kuadran II : Guru yang tingkat komitmennya tinggi namun tingkat abstraksinya rendah. Dia adalah guru yang antusias, energik, dan selalu penuh perhatian. Dia selalu berusaha untuk menjadi guru yang lebih baik, dan ingin membuat kelasnya lebih menarik dan relevan dengan siswa. Dia bekerja dengan keras dan biasanya membawa pekerjaan ke rumah. Sayangnya, perhatiannya yang baik tidak didukung oleh kemampuannya untuk menyelesaikan persoalan dengan realistis. Guru seperti ini dikategorikan sebagai guru yang tidak fokus. Dia selalu terlibat dalam banyak proyek dan aktivitas, tapi dia mudah merasa bingung, berkecil hati, dan menjeburkan diri dalam tugas yang menumpuk. Hasilnya, guru seperti ini jarang dapat menyelesaikan tugasnya sebelum menerima tugas yang baru.[14]
Kuadran III : adalah guru yang tingkat komitmennya rendah namun tingkat abstraksinya tinggi. Dia adalah guru yang cerdas, penuh dengan ide-ide cemerlang tentang apa yang harus dilakukan di kelas, di luar kelas maupun di dalam sekolah. Dia dapat mendiskusikan isu yang muncul secara gamblang dan dapat berfikir dengan membuat tahapan-tahapan penting untuk dilaksanakan dengan baik. Guru seperti ini dikategorikan sebagai pengamat analitis, karena ide-idenya seringkali tidak terlaksana. Dia tahu apa yang harus dilakukan, namun dia tidak mau mengorbankan waktu dan tenaganya serta tidak peduli pada apa yang telah direncanakan.[15]
Kuadran IV : adalah guru yang tingkat komitmen dan abstraksinya sama-sama tinggi. Dia benar-benar guru yang profesional, komit terhadap pengembagan diri secara terus menerus, pengembangan siswa, dan sesama guru. Dia mampu memikirkan tugasnya, mempertimbangkan alternatif yang ada, mampu menentukan pilihan dengan rasional, dan mengembangkan serta melaksanakan perencanaan yang matang. Dia dianggap sebagai pimpinan informal, dan orang lain ingin minta bantuannya. Tidak hanya karena memiliki banyak ide, aktivitas, dan sumber daya, namun orang seperti ini selalu terlibat aktif dalam merancang perencanaan dengan sempurna. Dia adalah pemikir sekaligus pelaksana.
Dengan memfokuskan pada dua variabel tersebut, supervisor dapat memulai untuk berfikir bahwa individu guru memiliki perbedaan perkembangan. Guru dapat diarahkan dengan berbagai cara untuk membantu mereka mengembangkan tingkat komitmen dan abstraksi ke arah yang lebih tinggi. Pertama kali supervisor harus bekerja bersama mereka sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Mengingat bahwa secara implisit karakteristik perilaku supervisi mengikuti kontinum, maka tujuan supervisi adalah selalu meningkatkan perilaku tersebut. Hal tersebut dilakukan sebagai kontrol supervisor dalam memperbaiki sistem pengajaran dan sebagai pedoman bagi guru mengembangkan perilaku guru dan mengontrol dirinya sendiri. Hal ini tidak berlangsung selamanya. Pada beberapa guru yang mau terbuka, tidak akan terjadi masalah. Pada beberapa guru yang lain mungkin membutuhkan waktu satu sampai tiga tahun. Dan pada sebagian yang lain mungkin sudah siap untuk mengontrol dirinya sendiri (self-direction). [16]


 





Gambar 4. Kontinum perilaku supervisi pengembangan

Skema di atas, dapat dijadikan sebagai titik awal bagi supervisor bersama dengan guru untuk menentukan pendekatan supervisi yang cocok. Guru dropout lebih cocok menggunakan pendekatan direktif, pengamat analitis lebih cocok dengan pendekatan kolaboratif dengan menekankan pada negoisasi, guru yang tidak fokus lebih tepat menngunakan kolaboratif dengan menekankan pada presentasi ide dari supervisor, sedangkan profesional lebih cocok dengan pendekatan supervisi nondirektif.


[1] http://pengertian-pendidikan.com diakses pada Minggu 1 Juni 2014 pukul 10.43 WIB.
[2] W. Mantja, Profesionalisme Tenaga Kependidikan: Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran, Kumpulan Karya Tulis Terpublikasi, (Malang: Elang Mas, 2007), hlm. 113.
[3] Binti Maunah, Supervisi Pendidikan Islam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Teras, 2009), 139.
[4] Sri Benun Muslim, Supervisi Pendidikan Meningkatkan Kualitas Profesionalisme Guru,(Bandung: Alfabeta, 2009), 80
[5] Ibid, hlm. 116.
[6] Luk-luk Nur Mufidah, Supervisi . . . , hlm. 73.
[7] Ibid, hlm. 74.
[8] Ibid, hlm. 75.
[9] Ibid, hlm. 76.
[10] Ibid, hlm. 77.
[11] Ibid, hlm. 78.
[12] Ibid, hlm. 79.
[13] Ibid, hlm. 79.
[14] Ibid, hlm. 80.
[15] Ibid, hlm. 81.
[16] Ibid, hlm. 82.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blog Design by W-Blog