Sabtu, 12 Desember 2015

Annoying Experience


Jumat, 11 Desember 2015 – Pagi-pagi sekitar pukul 10an aku dan salah satu temanku bernama Lutfi dibuat jengkel oleh sebuah jasa foto copy. Sekedar informasi saja, tempat foto copy (FC) ini terletak di kecamatan *o***a***, salah satu kecamatan di kota kelahiranku, Tulungagung.

Dibuat jengkel??? Kok bisa??

Jadi ceritanya, aku dan Lutfi mau mengembalikan buku di perpustakaan kampus kami. Nah, sebelum buku-buku itu ke tangan petugas pengembalian buku, kami menfoto copy beberapa lembar yang kami anggap penting dulu. Biasa, semester tua yang selalu dikejar bayang-bayang skripsweet alias skripsi yang ada di otaknya hanyalah buku, buku, dan buku. Bagaimana caranya memperoleh banyak buku, yah walaupun itu hanya diambil segelintir kalimat saja.

Kali ini aku sengaja tidak memilih foto copy dekat kampus seperti biasanya. Alasannya adalah tidak mau antri lama. Tempat foto copy yang aku sebut tadi jauh dari lembaga yang orang-orangnya kerap foto copy kertas-kertas yang dianggap penting. Beda dengan  tempat FC samping kampus yang hampir setiap hari dipenuhi dengan mahasiswa dengan seabrek dokumen yang dicopy, entah itu berupa buku, tugas, makalah, ataupun hanya beberapa kertas saja. Jadi, aku berpikir urusan aku tentang perfotocopian akan cepat selesai jika di FC di tempat itu.





Namun, nyatanya aku salah. Untuk hari ini – aku gak tahu bagaimana kesehariannya – petugas FC tersebut tidak mengaplikasikan bagaimana mestinya budaya antri dilaksanakan. Aku dan Lutfi yang datang lebih awal malah dinomortigakan. Mulai dari sinilah rasa kejengkelanku muncul. Namun, melihat yang kami FC lebih banyak dari mereka yang datang terakhir, oke kami mengalah. Yah begitulah, kami kelewat sabar jadi orang, hahahaha.

Ternyata kejengkelan tersebut mampu menumbuhkan kejengkelan yang lainnya. Ibaratnya rasa jengkelku mampu beranak pinak hanya di satu lokasi. Ketika orang yang datangnya setelahku selesai urusannya dengan petugas FC, seperti pada umumnya, orang tersebut membayar biaya FC, dan betapa kagetnya aku ketika mendengar petugas FC berkata, “Enam ribu mbak”. Sontak aku langsung menatap Lutfi dengan tatapan “Kok mahal?”

“Heh?” Lutfi berbisik padaku tanda dia meminta kejelasan dari tatapanku. Aku yang dari tadi menguping banyaknya lembar yang diFC oleh orang tersebutpun menjelaskan bahwasanya 18 lembar ditambah print satu lembar harganya 6 ribu rupiah. Jadi aku perkirakan per lembarnya adalah Rp 300,00.

Oh NO NO NO !!!!!

Padahal di dekat kampus saja paling mahal Rp 200,00. Itupun kualitas kertasnya juga lebih bagus dari tempat FC yang berinisial K tersebut. Aku pun membayangkan, berapa lembar rupiah kah yang harus aku keluarkan untuk segelintir kertas yang memuat banyak ilmu tersebut?? Mengingat harga yang sangat luar biasa, akhirnya dengan sangat ikhlas satu buku milik Lutfi tidak diFC sekalian, mendingan dibawa ke dekat kampus saja yang lebih bersahabat.

Setelah menunggu banyak menit, tibalah giliran kami untuk melaksanakan pembayaran. Terhitung punya temanku yang hanya sekitar 30an lembar dihargai 10ribu. Demi sebuah kepastian, aku pun bertanya berapa harga per lembar yang telah ditetapkan toko tersebut.

“300 mbak. Tapi ini tadi diperkecil jadinya 400 per lembar” jawab petugas FC sambil menunjuk FC punyaku.

Apa-apaan ini??? Lebih kecil lebih mahal?? Helloo aturan siapa lagi??? Maaf, mangkel alias jengkelku sudah sampai puncak. Tidak mau merasakan jengkel yang berlebih,, segera aku membayar dan meninggalkan tempat FC tersebut serta berniat untuk tidak mengulangi lagi kebodohan FC di tempat tersebut.

Di perjalanan, aku terus protes, teori bisnisnya siapa yang dipakai? Biasanya, sepengetahuanku, orang kalau mau bisnisnya lancar itu, harga produk yang dijual atau harga  jasa yang diberikan itu lebih terjangkau dari yang lainnya. Karena konsumen pasti lebih tertarik dengan harga yang lebih bersahabat dengannya. Lha itu tadi??? Makanya tidak heran kalau tempat FC tersebut sepi alias hanya sedikit yang mengunjungi tempat itu.

Berapapun tingginya penyesalan dan kejengkelanku tidak mengubah harga yang diberikan pada kami, nasi telah menjadi bubur dan memang bukan penyesalan namanya jika terjadi di depan. Namun, di balik itu semua ada pelajaran berharga yang dapat aku petik, yakni mengetahui harga sebelum memutuskan untuk membeli adalah diharuskan. Dengan demikian tidak ada yang merasa dirugikan dari sebuah transaksi. Dari sini kami sadar, bodohnya kami yang tidak bertanya berapa harga yang ditetapkan oleh tempat FC yang belum kami kenal tersebut.

Dari sini aku pun tersadar bahwa aturan Islam itu pasti memberikan yang terbaik. Misalnya itu tadi mengenai transaksi jual beli. Islam mengatur dalam kegiatan transaksi jual beli harus ada aqad atau persetujuan antara penjual dan pembeli sehingga tidak ada yang dirugikan setelahnya. Jadi, lain kali jangan asal membeli saja ya sob??? hehehe

2 komentar:

  1. Weh weh weh harga fc perlembarnya kebangetan tuh :D

    Semangat nyusun skripshit *eh* skripsinya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, didoakan saja semoga lekas sadar, cepat bangun dari pingsan nya, :D *lol*
      Iya, syukron :)

      Hapus

Like Me :)

Annoying Experience


Jumat, 11 Desember 2015 – Pagi-pagi sekitar pukul 10an aku dan salah satu temanku bernama Lutfi dibuat jengkel oleh sebuah jasa foto copy. Sekedar informasi saja, tempat foto copy (FC) ini terletak di kecamatan *o***a***, salah satu kecamatan di kota kelahiranku, Tulungagung.

Dibuat jengkel??? Kok bisa??

Jadi ceritanya, aku dan Lutfi mau mengembalikan buku di perpustakaan kampus kami. Nah, sebelum buku-buku itu ke tangan petugas pengembalian buku, kami menfoto copy beberapa lembar yang kami anggap penting dulu. Biasa, semester tua yang selalu dikejar bayang-bayang skripsweet alias skripsi yang ada di otaknya hanyalah buku, buku, dan buku. Bagaimana caranya memperoleh banyak buku, yah walaupun itu hanya diambil segelintir kalimat saja.

Kali ini aku sengaja tidak memilih foto copy dekat kampus seperti biasanya. Alasannya adalah tidak mau antri lama. Tempat foto copy yang aku sebut tadi jauh dari lembaga yang orang-orangnya kerap foto copy kertas-kertas yang dianggap penting. Beda dengan  tempat FC samping kampus yang hampir setiap hari dipenuhi dengan mahasiswa dengan seabrek dokumen yang dicopy, entah itu berupa buku, tugas, makalah, ataupun hanya beberapa kertas saja. Jadi, aku berpikir urusan aku tentang perfotocopian akan cepat selesai jika di FC di tempat itu.





Namun, nyatanya aku salah. Untuk hari ini – aku gak tahu bagaimana kesehariannya – petugas FC tersebut tidak mengaplikasikan bagaimana mestinya budaya antri dilaksanakan. Aku dan Lutfi yang datang lebih awal malah dinomortigakan. Mulai dari sinilah rasa kejengkelanku muncul. Namun, melihat yang kami FC lebih banyak dari mereka yang datang terakhir, oke kami mengalah. Yah begitulah, kami kelewat sabar jadi orang, hahahaha.

Ternyata kejengkelan tersebut mampu menumbuhkan kejengkelan yang lainnya. Ibaratnya rasa jengkelku mampu beranak pinak hanya di satu lokasi. Ketika orang yang datangnya setelahku selesai urusannya dengan petugas FC, seperti pada umumnya, orang tersebut membayar biaya FC, dan betapa kagetnya aku ketika mendengar petugas FC berkata, “Enam ribu mbak”. Sontak aku langsung menatap Lutfi dengan tatapan “Kok mahal?”

“Heh?” Lutfi berbisik padaku tanda dia meminta kejelasan dari tatapanku. Aku yang dari tadi menguping banyaknya lembar yang diFC oleh orang tersebutpun menjelaskan bahwasanya 18 lembar ditambah print satu lembar harganya 6 ribu rupiah. Jadi aku perkirakan per lembarnya adalah Rp 300,00.

Oh NO NO NO !!!!!

Padahal di dekat kampus saja paling mahal Rp 200,00. Itupun kualitas kertasnya juga lebih bagus dari tempat FC yang berinisial K tersebut. Aku pun membayangkan, berapa lembar rupiah kah yang harus aku keluarkan untuk segelintir kertas yang memuat banyak ilmu tersebut?? Mengingat harga yang sangat luar biasa, akhirnya dengan sangat ikhlas satu buku milik Lutfi tidak diFC sekalian, mendingan dibawa ke dekat kampus saja yang lebih bersahabat.

Setelah menunggu banyak menit, tibalah giliran kami untuk melaksanakan pembayaran. Terhitung punya temanku yang hanya sekitar 30an lembar dihargai 10ribu. Demi sebuah kepastian, aku pun bertanya berapa harga per lembar yang telah ditetapkan toko tersebut.

“300 mbak. Tapi ini tadi diperkecil jadinya 400 per lembar” jawab petugas FC sambil menunjuk FC punyaku.

Apa-apaan ini??? Lebih kecil lebih mahal?? Helloo aturan siapa lagi??? Maaf, mangkel alias jengkelku sudah sampai puncak. Tidak mau merasakan jengkel yang berlebih,, segera aku membayar dan meninggalkan tempat FC tersebut serta berniat untuk tidak mengulangi lagi kebodohan FC di tempat tersebut.

Di perjalanan, aku terus protes, teori bisnisnya siapa yang dipakai? Biasanya, sepengetahuanku, orang kalau mau bisnisnya lancar itu, harga produk yang dijual atau harga  jasa yang diberikan itu lebih terjangkau dari yang lainnya. Karena konsumen pasti lebih tertarik dengan harga yang lebih bersahabat dengannya. Lha itu tadi??? Makanya tidak heran kalau tempat FC tersebut sepi alias hanya sedikit yang mengunjungi tempat itu.

Berapapun tingginya penyesalan dan kejengkelanku tidak mengubah harga yang diberikan pada kami, nasi telah menjadi bubur dan memang bukan penyesalan namanya jika terjadi di depan. Namun, di balik itu semua ada pelajaran berharga yang dapat aku petik, yakni mengetahui harga sebelum memutuskan untuk membeli adalah diharuskan. Dengan demikian tidak ada yang merasa dirugikan dari sebuah transaksi. Dari sini kami sadar, bodohnya kami yang tidak bertanya berapa harga yang ditetapkan oleh tempat FC yang belum kami kenal tersebut.

Dari sini aku pun tersadar bahwa aturan Islam itu pasti memberikan yang terbaik. Misalnya itu tadi mengenai transaksi jual beli. Islam mengatur dalam kegiatan transaksi jual beli harus ada aqad atau persetujuan antara penjual dan pembeli sehingga tidak ada yang dirugikan setelahnya. Jadi, lain kali jangan asal membeli saja ya sob??? hehehe

2 komentar:

  1. Weh weh weh harga fc perlembarnya kebangetan tuh :D

    Semangat nyusun skripshit *eh* skripsinya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, didoakan saja semoga lekas sadar, cepat bangun dari pingsan nya, :D *lol*
      Iya, syukron :)

      Hapus

Blog Design by W-Blog